MILENOMIC

Riset Jobstreet: Rekan Kerja Berdampak pada Retensi Karyawan, Ini 4 Alasannya

Kurnia Nadya 07/08/2026 10:25 WIB

Data Jobstreet menunjukkan bahwa ada beberapa faktor pendorong kebahagiaan karyawan di tempat kerjanya selain kompensasi dan gaji.

Riset Jobstreet: Rekan Kerja Berdampak pada Retensi Karyawan, Ini 4 Alasannya. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Laporan terbaru Workplace Happiness Index yang dirilis oleh Jobstreet by SEEK pada Januari 2026 lalu mengungkapkan temuan menarik mengenai lanskap psikologis pekerja di Tanah Air. 

Meskipun kompensasi masih menjadi pertimbangan utama saat menerima pekerjaan baru maupun bertahan di sebuah perusahaan, data Jobstreet menunjukkan bahwa ada beberapa faktor pendorong kebahagiaan karyawan di tempat kerjanya. 

Antara lain, hubungan interpersonal yang kuat antarkaryawan, keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance), dan tujuan kerja (purpose). 

4 Alasan Mengapa Teman Kantor Berdampak Langsung pada Bisnis & Retensi

1. Social Support System Sebagai Penahan Angka Turnover

Meskipun gaji yang lebih tinggi tetap menjadi keinginan utama bagi 54 persen pekerja, dorongan finansial saja tidak selalu cukup untuk menahan mereka bertahan. Karyawan yang memiliki sahabat di tempat kerja cenderung memiliki ikatan psikologis (belongingness) yang erat. 

Berdasarkan riset Jobstreet, ketika beban kerja terasa berat, kehadiran rekan kerja/tim yang suportif diakui oleh 77 persen pekerja Indonesia sebagai pemicu kebahagiaan utama yang dapat bertindak sebagai bumper penahan stres yang efektif mencegah burnout dan niat mengundurkan diri.

2. Mendorong Produktivitas Kerja Melalui Kolaborasi Erat

Pertemanan yang erat antarkaryawan memangkas hambatan operasional maupun komunikasi (communication friction). Selain faktor tim, sebesar 76 persen pekerja di Indonesia juga merasa bahwa lokasi dan atmosfer tempat kerja yang kondusif turut mendukung terciptanya ruang aman untuk saling percaya. 

Pada lingkungan yang ramah dan familiar, karyawan cenderung lebih terbuka dalam berbagi ide, memberikan umpan balik konstruktif tanpa takut konflik personal, serta menyelesaikan masalah bersama secara jauh lebih responsif.

3. Menghubungkan Pekerjaan Harian dengan Purpose

Memiliki ikatan tim yang solid membantu karyawan memahami dampak nyata dari peran mereka. Dalam riset Jobstreet, perasaan bahwa pekerjaan mereka bermakna (purpose) menyumbang 75 persen terhadap faktor kebahagiaan pekerja. 

Ketika bekerja bersama kawan sefrekuensi, target organisasi yang awalnya terkesan abstrak bertransformasi menjadi misi bersama yang dikejar dengan penuh rasa kepemilikan.

4. Menjaga Motivasi dan Psychological Safety

Rasa aman secara psikologis (psychological safety) tumbuh paling subur di lingkungan di mana karyawan merasa diterima dan dihargai oleh rekan-rekannya. Kehadiran elemen-elemen manusiawi di tempat kerja menciptakan atmosfer yang memicu kreativitas. 

Karyawan menjadi lebih berani mengambil risiko terukur, berinovasi, dan saling mendukung saat perusahaan menghadapi tantangan bisnis yang berat. 

Temuan dari Workplace Happiness Index oleh Jobstreet by SEEK memberikan pesan yang jelas bagi korporasi di Indonesia bahwa penawaran finansial atau kompensasi memang dapat menarik talenta untuk datang. 

Relasi dan kultur perusahaan yang sehat adalah salah satu faktor kuat yang membuat karyawan bertahan. Oleh sebab itu Jobstreet menganjurkan agar perusahaan dan rekruter untuk tidak hanya fokus pada operasional maupun teknis untuk mencapai Key Performance Indicators (KPI). 

Namun, juga secara aktif merancang lingkungan kerja yang memungkinkan komunikasi dua arah dan ruang untuk berinteraksi secara sehat.

Dengan investasi pada budaya kerja yang inklusif, apresiatif, dan saling mendukung, perusahaan tidak hanya meningkatkan angka kebahagiaan karyawan, tetapi juga membangun benteng retensi dan produktivitas yang berkelanjutan di era pasar kerja yang dinamis.


(Nadya Kurnia)

SHARE