3.394 Gempa Susulan Terjadi di Flores, 99 Kali Dirasakan Warga
Dari jumlah tersebut, sebanyak 26 gempa memiliki magnitudo di atas Magnitudo 5.
IDXChannel - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat 3.394 gempa bumi susulan setelah gempa Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) M7,7 hingga Kamis (20/8/2026) pukul 05.00 WIB.
Tercatat magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26 gempa memiliki magnitudo di atas 5, sementara 99 gempa susulan dirasakan masyarakat.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto mengatakan, gempa bumi pertama kali terjadi di wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB dengan parameter update M7,7 sehingga berdampak tsunami di wilayah sekitarnya.
Dia mengatakan gempa bumi jenis dangkal ini disebabkan oleh aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
"Berdasarakan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3 – 4 minggu ke depan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada gempa bumi susulan yang masih terjadi," kata Wijayanto dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/8/2026).
Lebih lanjut, pada saat gempa bumi M7,7 Sabtu lalu, BMKG telah mengirimkan Peringatan Dini 1 pada 2 menit 16 detik setelah gempa bumi dengan status ancaman Siaga (0.5 - 3 meter) dan Waspada (<0.5 meter).
Beberapa wilayah terdampak di antaranya Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, Jeneponto dengan status Siaga dan wilayah Flores Timur, Bima, Dompu, Wajo untuk status Waspada.
Peringatan Dini Tsunami kemudian dinyatakan berakhir pada pukul 07:30:00 WIB atau 2 jam 31 menit 37 detik setelah gempa bumi.
Hasil observasi stasiun pasang surut menunjukkan gempa bumi ini telah memicu terjadinya tsunami di 16 lokasi pada 4 provinsi yaitu NTT, NTB, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, dengan ketinggian tsunami paling tinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT pada pukul 05.03 WIB (1.605 m), dan terendah di Bakalang, Alor, NTT pada pukul 05:41 WIB (0.14 m).
“BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempabumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan,” papar Wijayanto.
Survei ini bertujuan mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana sekaligus menjadi dasar pemetaan mikrozonasi pascagempa, evaluasi kondisi wilayah terdampak, serta penyusunan rekomendasi mitigasi dan rekonstruksi yang lebih aman.
“Wilayah prioritas berfokus pada daerah dengan kerusakan sedang hingga berat serta dibandingkan dengan lokasi yang relatif tidak mengalami kerusakan,” ujar Wijayanto.
Lebih lanjut, BMKG melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terdampak untuk memberikan pemahaman yang tepat serta membantu menenangkan masyarakat dalam menghadapi kondisi pascagempa.
"Masyarakat diimbau agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi, serta mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)