News

Banyak Hotspot Karhutla Terdeteksi, Akademisi Ingatkan Pentingnya Verifikasi Lapangan

Tangguh Yudha 23/08/2026 22:05 WIB

Akademisi mengingatkan pentingnya verifikasi langsung untuk memastikan kondisi sebenarnya terkait kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

Akademisi mengingatkan pentingnya verifikasi untuk memastikan kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. (Foto: iNews Media Group)

IDXChannel - Banyaknya titik panas atau hotspot yang terdeteksi di sejumlah wilayah di Kalimantan tengah menjadi sorotan. Namun begitu, akademisi mengingatkan data tersebut perlu diverifikasi langsung untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Guru Besar Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak sekaligus Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Gusti Hardiansyah mengatakan, munculnya hotspot tidak serta-merta menunjukkan jumlah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurutnya, data hotspot yang berasal dari Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tetap perlu dilakukan ground truthing atau pengumpulan data langsung.

“Kalau saya lihat nih, kita harus bedakanlah dengan data ya. Saya merasa seminggu ini terlalu panik. Pemberitaan-pemberitaan itu panik kesannya. Padahal di lapangan ya, yang paling perlu itu kan, data tadi dibilang data hotspot dari SiPongi, dari BMKG, itu kan perlu di ground truthing ya,” kata Gusti, Minggu (23/8/2026).

Dia mencontohkan laporan mengenai sejumlah hotspot yang sempat terdeteksi di Kalimantan Barat. Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di Kalimantan Tengah. Namun, setelah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim melakukan pengecekan langsung ke lapangan, jumlah titik yang benar-benar menunjukkan adanya kebakaran ternyata lebih sedikit.

Oleh Karena itu, Gusti meminta masyarakat tidak langsung panik hanya berdasarkan data hotspot. Menurut dia, risiko karhutla memang tinggi, terutama di tengah kondisi El Nino, tetapi tingginya risiko tersebut harus diimbangi dengan kesiapan penanganan yang juga tinggi.

“Artinya apa? Risiko karhutla yang tinggi, betul, El Nino yang tinggi, itu kita lawan juga dengan kesiapan kita yang tinggi. Sehingga tidak panik,” lanjutnya.

Gusti menilai kepanikan justru dapat membuat penanganan karhutla menjadi tidak efektif. Kondisi ini berpotensi membuat masyarakat dan berbagai pihak justru saling mencari kesalahan.

“Karena kesannya kalau kita panik, kita sesama kita mencari kesalahan, kesalahan ini jadi saling salah,” katanya.

Di sisi lain, Gusti menilai penanganan karhutla dalam jangka pendek perlu memanfaatkan operasi modifikasi cuaca (OMC). Namun, pelaksanaan OMC saat ini menghadapi kendala karena kondisi awan yang dinilai tidak cukup mendukung.

"Dan yang paling penting ini, penjelasan masyarakat bahwa operasi modifikasi cuaca, artinya apa? Kita lihat kesiapan BMKG, TNI, Polri, pesawat-pesawat sudah siap, pendanaan dari Kementerian Sekretariat Negara juga sudah siap, tapi karena awannya tipis ya, tipis sekali. Jadi ini juga perlu kita jelaskan," ucapnya.

Gusti mencatat perguruan tinggi juga perlu ikut memikirkan teknologi atau pendekatan lain yang dapat digunakan untuk membantu penanganan karhutla. Ia menegaskan, penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.

Menurut dia, dunia usaha juga telah melakukan sejumlah langkah antisipasi. Pengusaha melalui Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) disebut telah mengeluarkan edaran dan melakukan persiapan di lapangan.

Di samping itu, Gusti juga menekankan penegakan hukum tetap harus dilakukan apabila ditemukan unsur kesengajaan dalam pembakaran lahan maupun pelanggaran terhadap standar operasional prosedur (SOP) pencegahan karhutla.

“Kalau memang kejadiannya sengaja dibakar atau tidak melakukan SOP yang dilakukan, saya pikir penindakan hukum harus juga dilakukan,” ujarnya.

Sementara itu, terkait kesiapan dalam jangka pendek, Gusti mengatakan kondisi El Nino masih perlu menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan risiko karhutla. Menurut dia, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan perlu memahami pola karhutla berdasarkan data dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan melihat pola tersebut, menurut dia, upaya penanganan perlu dilakukan lebih efektif, salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca.

“Nah tentunya melihat data ini, tadi itu, memang sekarang kalau mau lebih efektif itu dengan OMC, Operasi Modifikasi Cuaca,” ujarnya.

(Rahmat Fiansyah)

SHARE