News

Dari Dapur MBG, Santri Yatim Ini Bisa Hidupkan Ekonomi Keluarga

Kunthi Fahmar Sandy 21/04/2026 08:33 WIB

Kehadiran MBG bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga peluang untuk belajar dan berkembang

Dari Dapur MBG, Santri Yatim Ini Bisa Hidupkan Ekonomi Keluarga (FOTO:Dok Ist)

IDXChannel – Di balik kesibukan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), tersimpan kisah perjuangan seorang santri yatim yang kini mampu menopang ekonomi keluarganya. Muhammad Zainuddin Alwi, pemuda asal Bandung Sari, Purwodadi, menjadi salah satu sosok yang merasakan langsung manfaat program tersebut.

Sejak kecil, Alwi tumbuh dalam keterbatasan. Ia kehilangan ayahnya saat masih belia dan menjalani kehidupan sebagai santri di pesantren. Seiring waktu, ia kemudian mengabdi dengan mengajar di pondok tempatnya dahulu dididik. Meski hidup di lingkungan pesantren, Alwi tetap berusaha mandiri dan membantu keluarga.

“Latar belakang saya sendiri dari keluarga, bisa dibilang kurang mampu. Saya bekerja di SPPG Klodran, dan di sini saya tinggal di pondok pesantren,” katanya saat mengisahkan dikutip Selasa (21/4/2026).

Keseharian Alwi terbilang padat. Ia mengajar selepas magrib hingga malam, lalu kembali mengajar setelah subuh. Pada pagi hari, ia juga mengantar santri-santri berangkat ke sekolah. Rutinitas ini dijalaninya setiap hari.

Kesempatan baru datang pada awal 2025, ketika Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Klodran mulai beroperasi. Alwi kemudian meminta izin kepada kiainya untuk mendaftar dan mendapat restu untuk bergabung.

“Di sini saya berperan di divisi persiapan. Persiapan itu tugasnya menyiapkan barang yang mau dimasak oleh pengolahan,” ujarnya.

Pada divisi ini, Alwi terlibat dalam berbagai proses awal pengolahan makanan, mulai dari menyiapkan bahan, memotong, hingga membantu proses memasak sederhana. Pengalaman tersebut menjadi hal baru baginya, mengingat latar belakangnya bukan di bidang kuliner.

“Terus kayak awal pertama saya di sini masih kagok. Masih kurang lancar kalau potong-potong. Sekarang ya alhamdulillah udah agak lancar,” tutut Alwi.

Bagi Alwi, kehadiran MBG bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga peluang untuk belajar dan berkembang. Ia kini memiliki keterampilan baru yang dapat menjadi bekal di masa depan. Selain itu, penghasilan yang diperolehnya dari bekerja di dapur MBG dimanfaatkan untuk membantu keluarga.

“Kalau hasil kerja dari sini saya buat nabung untuk nyambut masa depan. Terus sebagian untuk ibu saya, terus adik-adik saya,” kata Alwi.

Lebih dari sekadar tempat bekerja, lingkungan di dapur MBG juga memberikan rasa kebersamaan dan dukungan. “Kalau senangnya di sini itu kayak kekeluargaan. Jadi semua merangkul jadi satu. Terus rukun gitu,” katanya.

Alwi berharap pengalaman yang didapatkannya dapat menjadi langkah awal untuk mewujudkan cita-citanya, termasuk membuka usaha di bidang kuliner. Ia juga menyampaikan apresiasi atas kesempatan yang diberikan melalui program MBG.

“Terima kasih banyak Pak Prabowo sehingga saya bisa mempunyai penghasilan sendiri. Sehingga bisa meringankan beban orang tua,” ujar Alwi.

Kisah Alwi menjadi gambaran bahwa Program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang kerja, meningkatkan keterampilan, serta membantu memperkuat ekonomi keluarga, khususnya bagi generasi muda di daerah.

(kunthi fahmar sandy)

SHARE