Dua Bibit Siklon Masih Terpantau, BMKG Minta Waspadai Dampak Cuaca Ekstrem
BMKG mengonfirmasi adanya satu Siklon Tropis Nokaen dan dua Bibit Siklon yang terpantau di sekitar wilayah Indonesia.
IDXChannel - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta menyampaikan pemutakhiran kondisi cuaca tropis per 18 Januari 2026 pukul 07.00 WIB.
BMKG mengonfirmasi adanya satu Siklon Tropis Nokaen dan dua Bibit Siklon yang terpantau di sekitar wilayah Indonesia.
"Siklon Tropis Nokaen telah tumbuh dari bibit Siklon Tropis 91W sejak 15 Januari 2026. Saat ini posisi berada di wilayah monitoring TCWC Jakarta, tepatnya di Laut Filipina sebelah timur laut Manila," kata BMKG dalam keterangannya.
BMKG memprediksi dalam 24 jam ke depan, kecepatan angin maksimum Siklon Nokaen akan persisten pada kategori satu. Dimana arah pergerakannya adalah ke arah timur laut menjauhi wilayah Indonesia.
Selain Siklon Tropis Nokaen, BMKG juga memantau dua sistem bibit siklon di bagian selatan yakni Bibit Siklon Tropis 96S yang saat ini terpantau di Samudra Hindia barat laut Australia. "Memiliki peluang rendah untuk menjadi siklon tropis dan bergerak ke arah barat daya menjauhi wilayah Indonesia," ujar BMKG.
Kemudian, Bibit Siklon Tropis 97S yang terpantau di pesisir utara Australia. Sistem ini juga dinyatakan memiliki peluang rendah menjadi siklon namun bergerak perlahan ke arah barat.
Meski ketiga sistem ini berada di luar wilayah Indonesia, BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait dampak tidak langsung yang diprediksi berlaku hingga 19 Januari 2026 pukul 07.00 WIB.
Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat serta angin kencang sebagai dampak tidak langsung dari keberadaan Bibit Siklon 97S.
Selain cuaca di darat, BMKG juga memberikan peringatan gelombang laut tinggi:
- Gelombang Tinggi (2.5 - 4.0 meter/Rough Sea): Berpotensi terjadi di Perairan Kupang, Laut Sawu, Samudera Hindia selatan NTT, dan Laut Arafuru bagian barat.
- Gelombang Sedang (1.25 - 2.5 meter/Moderate Sea): Berpotensi terjadi di Samudera Pasifik utara Maluku, Selat Bali, Selat Lombok, Selat Sumba, Samudera Hindia selatan Jawa hingga NTB, Laut Banda, serta perairan Kepulauan Kei dan Aru.
(kunthi fahmar sandy)