Gelombang Protes No Kings Guncang AS, Demonstran Protes Kebijakan Trump
Lebih dari 3.200 aksi telah direncanakan di 50 negara bagian, setelah dua aksi nasional sebelumnya menarik jutaan peserta.
IDXChannel - Demonstrasi besar-besaran bertajuk "No Kings" kembali terjadi di Amerika Serikat (AS), Sabtu (28/3/2026), menandai gelombang ketiga aksi tersebut. Para demonstran mengecam upaya deportasi agresif Presiden AS Donald Trump, perang di Iran, dan kebijakan lainnya.
Melansir Reuters, Minggu (29/3/2026), lebih dari 3.200 aksi telah direncanakan di 50 negara bagian. Penyelenggara di AS memperkirakan dua gelombang pertama aksi “No Kings” menarik lebih dari 5 juta orang pada Juni dan 7 juta orang pada Oktober. Pada Sabtu, mereka memperkirakan sedikitnya 8 juta peserta ikut ambil bagian.
Aksi besar terjadi di New York City, Dallas, Philadelphia, dan Washington, D.C.
Penyelenggara juga mengatakan sekitar dua pertiga aksi "No Kings" yang berlangsung di luar kota-kota besar meningkat hampir 40 persen di komunitas kecil dibanding mobilisasi pertama gerakan tersebut pada Juni tahun lalu.
"Trump ingin memerintah kami seperti seorang tiran. Tetapi ini Amerika, dan kekuasaan berada di tangan rakyat, bukan di tangan calon raja atau para kroni miliarder mereka,” kata para penyelenggara.
Seperti pada aksi-aksi "No Kings" sebelumnya, para demonstran mengangkat boneka atau patung figur Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, serta pejabat lain dalam pemerintahan, sambil menyerukan agar mereka dilengserkan dan ditangkap.
Trump Disebut Ancaman Eksistensial
Di Minnesota, yang menjadi titik panas dalam penindakan imigrasi ilegal oleh pemerintahan Trump, sebuah aksi besar digelar di luar gedung parlemen negara bagian di Saint Paul. Banyak peserta mengangkat poster bergambar Renee Good dan Alex Pretti, warga negara AS yang tewas ditembak oleh petugas imigrasi federal di Minneapolis tahun ini.
Gubernur Minnesota Tim Walz, yang merupakan calon wakil presiden dari Partai Demokrat pada pemilu 2024, mengatakan kepada massa bahwa perlawanan mereka terhadap Trump dan kebijakannya menjadikan mereka "jantung dan jiwa" dari segala hal baik tentang Amerika Serikat.
"Mereka menyebut kita radikal. Benar sekali kita telah diradikalisasi, diradikalisasi oleh rasa welas asih, oleh kesopanan, oleh proses hukum yang adil, oleh demokrasi, dan diradikalisasi untuk melakukan segala yang kita bisa untuk menentang otoritarianisme," kata Walz.
Senator AS dari Vermont, Bernie Sanders, yang juga dikenal sebagai pengkritik Trump dan pernah mencalonkan diri sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat pada 2016 dan 2020, turut berbicara dalam acara di Minnesota.
"Kami tidak akan membiarkan negara ini jatuh ke dalam otoritarianisme atau oligarki di Amerika. Kami, rakyat, yang akan memerintah," kata Sanders, yang berstatus independen.
Musisi Bruce Springsteen juga tampil membawakan lagu Streets of Minneapolis, menjadi lagu yang mengkritik penindakan imigrasi oleh Trump serta menyesalkan kematian Good dan Pretti.
Seorang juru bicara White House menyebut aksi protes tersebut sebagai "sesi terapi Trump Derangement", dan mengatakan satu-satunya pihak yang peduli terhadap aksi itu adalah para wartawan yang dibayar untuk meliputnya.
(NIA DEVIYANA)