News

Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Diver Ojol Keluhkan Biaya Operasional Makin Mahal

Mei Sada 10/06/2026 12:42 WIB

Kenaikan harga Pertamax kali ini terasa jauh lebih berat dibandingkan dengan penyesuaian harga sebelumnya.

Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Diver Ojol Keluhkan Biaya Operasional Makin Mahal. (Foto: MNC Media)

IDXChannel—Kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax RON 92 menjadi Rp16.250 per liter menuai keluhan dari kalangan pengemudi ojek online. Mereka menilai lonjakan harga kali ini terlalu tinggi dan berpotensi menambah beban biaya operasional harian.

Salah satunya disampaikan Eko, pengemudi ojek online asal Petamburan yang ditemui di SPBU 34.111.03 KS Tubun, Slipi, Jakarta Barat, Rabu (10/6/2026).

Menurut Eko, kenaikan harga Pertamax kali ini terasa jauh lebih berat dibandingkan dengan penyesuaian harga sebelumnya. Jika biasanya kenaikan harga hanya berkisar seribu rupiah, kini kenaikannya dinilai sangat tinggi, yaitu Rp3.000 lebih.

“Waduh, kayaknya tinggi banget naiknya ya. Biasanya kan paling cuma seribu naiknya, ini sekarang tiga ribu lebih. Enggak cukup lah buat narik,” kata Eko saat ditemui di lokasi, Rabu (10/6/2026).

Eko mengaku selama ini rutin menggunakan Pertamax untuk kendaraannya. Namun, setelah harga naik menjadi Rp16.250 per liter, ia memutuskan beralih ke Pertalite. Tujuannya agar biaya operasional tidak semakin membengkak.

“Saya biasa Pertamax motor saya, jadi ganti Pertalite. Harapannya bisa normal kembali kayak kemarin, ini terlalu tinggi soalnya (naiknya), nggak cukup pendapatan saya,” ujarnya.

Pantauan di lokasi juga menunjukkan dampak langsung dari kenaikan harga BBM non-subsidi tersebut. Antrean pengisian Pertalite untuk sepeda motor terlihat mengular, sementara jalur Pertamax relatif sepi.

Bahkan sekitar pukul 09.45 WIB, antrean di jalur Pertamax bagi pemotor sempat kosong. Para pengemudi ojek online pun berharap ada solusi yang dapat meringankan beban masyarakat, khususnya mereka yang menggantungkan pendapatan harian dari aktivitas berkendara di jalan.

"Harapannya bisa normal kembali kayak kemarin. Ini terlalu tinggi soalnya (naiknya). Gak cukup pendapatan saya," pungkasnya.


(Nadya Kurnia)

SHARE