News

Hasil CKG Semester I-2026: Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi, hingga Risiko TBC pada Remaja

Niko Prayoga 17/07/2026 14:33 WIB

Hingga 5 Juli, tercatat 59,6 juta masyarakat berpartisipasi dalam program CKG. Dari hasil skrining massal itu, Kemenkes memetakan beragam masalah kesehatan.

Hasil CKG Semester I-2026: Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi, hingga Risiko TBC pada Remaja. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diinisiasi Kementerian Kesehatan mengungkap fakta mengejutkan sepanjang semester pertama 2026. Angka prevalensi penyakit jantung bawaan kritis tercatat cukup tinggi pada kelompok usia bayi. 

Hingga 5 Juli, tercatat 59,6 juta masyarakat berpartisipasi dalam program CKG. Dari hasil skrining massal itu, Kemenkes memetakan beragam masalah kesehatan yang jamak dialami masyarakat berdasarkan kelompok usia, mulai dari bayi, anak sekolah, hingga remaja.

Berdasarkan data per 28 Juni, penyakit jantung bawaan kritis menjadi salah satu ancaman dengan prevalensi yang cukup tinggi pada kelompok bayi baru lahir. Dari 490.000 bayi yang telah menjalani enam metode skrining, sebanyak 4,3 persen atau sekitar 20.946 bayi tercatat berpotensi mengalami indikasi kelainan. 

Sehingga, bayi-bayi ini harus segera mendapatkan pemeriksaan lanjutan demi memastikan kondisinya. Sementara itu, peta masalah kesehatan bergeser seiring bertambahnya usia anak. 

Pada kelompok SD, paling banyak ditemukan masalah karies gigi, hipertensi, gangguan status gizi, serta gangguan indera pendengaran dan penglihatan.

Kemudian pada kelompok SMP, masalah karies gigi semakin meningkat. Selain itu, kelompok usia ini mulai menunjukkan gejala gangguan kesehatan jiwa berupa depresi, yang dibarengi dengan risiko tuberkulosis (TBC), hipertensi, dan masalah gizi.

Sementara, pada kelompok SMA, masalah gangguan mental dan depresi juga ditemukan semakin melonjak. Tren ini diikuti oleh masalah karies gigi, hipertensi, risiko TBC, hingga obesitas.

Secara keseluruhan, karies gigi menjadi masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan, yakni dialami oleh lebih dari 40 persen peserta. Posisi berikutnya diikuti oleh anemia 27 persen, peningkatan tekanan darah 21 persen, penumpukan kotoran telinga 7 persen serta obesitas sebanyak 7 persen.

Catatan di atas menunjukkan bahwa Indonesia kini menghadapi fenomena double burden of malnutrition (beban ganda masalah gizi). Data menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak lagi didominasi oleh anak kurung (gizi kurang). Jumlah anak dengan gizi lebih atau obesitas kini semakin meroket dan mendekati angka gizi kurang.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa berbagai hasil CKG di atas akan menjadi dasar bagi pemerintah untuk melakukan intervensi pelayanan kesehatan agar lebih tepat sasaran.

"Sekarang kita memiliki data kesehatan masyarakat yang jauh lebih lengkap. Kita tahu masalah kesehatan anak SD berbeda dengan anak SMP maupun SMA. Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif," ujar Budi dalam siaran persnya, dikutip Jumat (17/7/2026).

Maka dari itu, Kemenkes meningkatkan program CKG tidak hanya pada deteksi dini, melainkan sudah mulai masuk ke tahap tatalaksana atau pengobatan. 

Fokus utamanya saat ini adalah mengobati peserta CKG yang terdiagnosis menderita penyakit kronis, khususnya hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes melitus (kencing manis).

Ia menjelaskan, sebanyak 35,4 persen pasien yang terjaring di CKG 2025 telah kembali berobat pada CKG 2026. Hebatnya, hampir separuh dari mereka, 46,9 persen, kini berhasil mengontrol tekanan darah mereka ke angka normal. 

Kemudian, sekitar 33,1 persen pasien lama diabetes telah melakukan pemeriksaan ulang, dan mayoritas dari mereka, 69,4 persen, sukses mengendalikan kadar gula darah mereka.

Budi menargetkan minimal 50 persen penderita penyakit kronis ini mau menjalani pengobatan rutin, dengan setengah di antaranya berhasil mencapai kondisi stabil. 

Target ini berkaca pada keberhasilan negara maju seperti Korea Selatan yang sukses menekan angka kematian akibat penyakit jantung melalui strategi Triple 80.

"Korea berhasil karena menerapkan pendekatan Triple 80. Yakni 80 persen warga diskrining, 80 persen penderita diobati, dan 80 persen dari yang diobati itu berhasil sembuh atau kondisinya terkendali. Arah sistem kesehatan itulah yang sedang kita bangun di Indonesia," jelas dia.

Di sisi lain, Budi juga mengungkapkan rasa optimistis terkait peningkatan partisipasi masyarakat dalam melakukan CKG. 

Pemerintah menargetkan sebanyak 130 juta masyarakat Indonesia dapat terlayani program CKG ini hingga akhir tahun 2026, khususnya dengan memanfaatkan momentum tahun ajaran baru yang tengah berlangsung saat ini.

"Tujuan kita bukan sekadar mengumpulkan data siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat kita tetap sehat, bugar, dan produktif. Cek Kesehatan Gratis ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa," pungkas Budi. 


(Nadya Kurnia)

SHARE