Israel Serang Teheran dan Beirut saat AS Kirim Marinir ke Timur Tengah
Militer Israel menyerang Iran dan Beirut pada Sabtu (21/9/2026) ketika Amerika Serikat (AS) mengirim ribuan marinir lagi ke Timur Tengah.
IDXChannel - Militer Israel menyerang Iran dan Beirut pada Sabtu (21/9/2026) ketika Amerika Serikat (AS) mengirim ribuan marinir lagi ke Timur Tengah.
Israel mengatakan pihaknya menyerang Hizbullah di Ibu Kota Lebanon dengan meningkatkan serangan udara yang menargetkan milisi yang didukung Iran tersebut.
Serangan kali ini merupakan dampak paling mematikan dari perang melawan Iran sejak Hizbullah menembaki Israel untuk mendukung Teheran pada 2 Maret lalu.
Militer Israel mengatakan sebelum serangan hari Sabtu bahwa mereka telah mengeluarkan peringatan evakuasi untuk tujuh lingkungan di pinggiran selatan Beirut. Lebih dari 1.000 orang tewas di Lebanon dan lebih dari 1 juta orang mengungsi akibat serangan Israel.
Israel juga melancarkan serangan baru terhadap Iran pada hari Sabtu, termasuk di Ibu Kota Teheran. Lebih dari 2.000 orang telah tewas sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menuduh NATO pengecut karena tidak membantu membuka Selat Hormuz sementara pertempuran terus berlanjut.
Beberapa sekutu, yang tidak dikonsultasikan sebelum perang, telah berjanji untuk bergabung dalam "upaya yang tepat" untuk memastikan jalur aman melalui selat tersebut.
Tetapi Jerman dan Prancis mengatakan pertempuran harus dihentikan terlebih dahulu. Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan dia akan berbicara dengan Trump akhir pekan ini.
Selat Hormuz, jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global, telah ditutup secara efektif untuk sebagian besar pelayaran sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang melawan Iran.
Iran siap mengizinkan kapal-kapal yang terkait dengan Jepang melewati Selat Hormuz, demikian dilaporkan Kyodo News pada Sabtu, mengutip Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Jepang mendapatkan sekitar 90 persen pengiriman minyaknya melalui selat tersebut.
Sementara itu, Trump mengatakan di Gedung Putih bahwa akan mencabut sanksi selama 30 hari untuk memungkinkan penjualan 140 juta barel minyak Iran yang terperangkap di kapal tanker akibat perang.
Sebelumnya, Pemerintahan Trump telah melonggarkan sanksi terhadap jumlah minyak Rusia yang dikenai sanksi serupa. Hal itu sebagai upaya untuk meningkatkan pasokan dan menurunkan harga minyak setelah infrastruktur energi vital di Iran dan negara-negara tetangganya di kawasan Teluk ikut diserang.
Adapun harga minyak telah melonjak 50 persen sejak perang dimulai, mengancam ekonomi global. Sementara warga Amerika semakin khawatir dengan tanda-tanda perang dapat meluas lebih jauh saat memasuki minggu keempatnya.
United Airlines mengatakan akan mengurangi penerbangan terjadwalnya sebesar 5 persen pada kuartal kedua dan ketiga, sebagai persiapan menghadapi harga minyak yang lebih tinggi dalam jangka waktu lama.
(Febrina Ratna Iskana)