Transportasi Darat Penyumbang Emisi Terbesar, Tembus 188 Juta Ton CO2 per Tahun
Menko IPK Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut sektor energi menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) di Indonesia.
IDXChannel - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyebut sektor energi menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) di Indonesia, dengan kontribusi mencapai 55,3 persen dari total emisi nasional.
"Dari seluruh sektor, energi yang paling besar. Setelah itu baru disusul sektor lahan dan hutan, limbah, pertanian, serta industri dan penggunaan produk lainnya," ujarnya dalam acara Town Hall Meeting: Akselerasi Dekarbonisasi Transportasi di kantornya, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Lebih rinci, AHY menjelaskan, dalam sektor energi, emisi terbesar berasal dari minyak dan gas sebesar sekitar 39 persen, diikuti kegiatan manufaktur 31 persen, serta sektor transportasi 22 persen. Karena itu, pemerintah memfokuskan perhatian pada sektor transportasi sebagai area strategis untuk menekan emisi.
"Kalau kita bedah lagi sektor transportasi, maka secara alami transportasi darat itu kontribusinya sangat mendominasi, hampir 90 persen dari total emisi sektor transportasi," kata AHY.
Emisi dari sektor transportasi darat, kata dia, mencapai sekitar 188 juta ton CO2, jauh lebih besar dibandingkan transportasi laut, udara, maupun kereta api.
Melihat besarnya kontribusi tersebut, pemerintah mendorong pengembangan sektor perkeretaapian secara besar-besaran sebagai upaya mengalihkan beban angkutan dari jalan raya. "Kalau darat yang paling besar, mengapa tidak kita kembangkan sektor kereta secara besar-besaran untuk mengurangi beban jalan raya," ujarnya.
Selain itu, penertiban kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) juga menjadi bagian dari strategi. Menurut AHY, kebijakan ini tidak hanya untuk meningkatkan keselamatan, tetapi juga berdampak pada penurunan emisi karbon.
"Keselamatan nomor satu, tapi yang kedua juga mengurangi emisi karbon karena kendaraan berbasis bahan bakar fosil," ujar AHY.
Pemerintah juga menyiapkan langkah-langkah mitigasi lain, termasuk elektrifikasi kendaraan dan penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. AHY menyebut terdapat skenario moderat dan optimistis yang menargetkan penurunan emisi hingga sekitar 75 juta ton CO2 pada 2030.
"Sekarang kita 2026, waktu kita tinggal empat tahun lagi. Semangatnya ke sana," ujarnya.
Untuk sektor transportasi darat, pemerintah akan mendorong percepatan kendaraan listrik, baik untuk mobilitas barang, manusia, maupun jasa. Selain itu, penggunaan biodiesel B50 dan Pertamax Green juga terus dikawal sebagai bagian dari transisi energi.
Tak hanya itu, pemerintah juga menargetkan peralihan moda transportasi ke angkutan massal, khususnya bus, dengan harapan semakin banyak operator transportasi publik dan masyarakat beralih dari kendaraan pribadi.
"Kita berharap semakin banyak operator public transport dan masyarakat yang mengurangi kendaraan pribadi, sehingga beban jalan dan emisi bisa sama-sama ditekan," kata AHY.
(Dhera Arizona)