News

Tren Konsumen Beralih ke Produk Kecantikan Alami, Tinggalkan Bahan Kimia Sintetik

Niko Prayoga 01/02/2026 16:22 WIB

Peralihan tren ini didorong oleh kesadaran konsumen akan kesehatan kulit jangka panjang dan keberlanjutan lingkungan.

Tren Konsumen Beralih ke Produk Kecantikan Alami, Tinggalkan Bahan Kimia Sintetik. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Tren produk kecantikan dan perawatan wajah tengah mengalami pergeseran signifikan. Banyak beauty enthusiast kini mulai beralih ke produk bahan alami dan meninggalkan produk berbahan kimia sintetik.

Fenomena ini sejalan dengan laporan Global Market Report 2025 yang memproyeksikan pasar perawatan wajah berbasis bahan alami di dunia akan mencapai USD22,8 miliar. Bahkan diperkirakan meningkat menjadi USD39,24 miliar pada 2030. 

Hal itu didorong oleh kesadaran konsumen akan kesehatan kulit jangka panjang dan keberlanjutan lingkungan.

Apalagi, Fortune Business Insights mencatat bahwa wilayah Asia Pasifik kini mendominasi lebih dari 50 persen pangsa pasar kecantikan dunia, di mana bahan-bahan lokal autentik menjadi nilai jual tertinggi yang sulit ditiru negara lain.

Maka dari itu, penggunaan kosmetik berbahan dasar alam di Indonesia kini bukan sekadar pilihan alternatif, melainkan gaya hidup yang mencerminkan kesadaran akan kesehatan kulit. 

Hal tersebut membuat produk kosmetik, kecantikan, atau skincare berbahan dasar alam mulai diincar masyarakat, khususnya anak muda.

Halim Nababan dari manajemen PT Nose Herbal Indo menuturkan bahwa analisis tren pasar menunjukkan generasi muda hari ini lebih selektif. Mereka sangat berhati-hati melihat bahan baku serta sertifikasi produk. Hasilnya, bahan baku kosmetik dari alam jauh lebih diminati.

“Untuk generasi sekarang, kembali ke alam menjadi satu pemikiran yang bagus. Mereka selalu bertanya, ini terbuat dari apa? Sudah ada sertifikasinya atau belum?” kata Halim dalam keterangannya, Sabtu (31/1/2026).

Saat ini, banyak perusahaan kosmetik mulai memenuhi permintaan pasar tersebut. Salah satunya PT Nose Herbal Indo yang mulai memanfaatkan tanaman endemik seperti pegagan dan rumput laut.

“Rumput laut bisa menjadi bahan dasar kosmetik, apalagi Indonesia adalah penghasil rumput laut kedua terbesar di dunia. Sementara pegagan bisa menjadi bahan campuran unik. Kami sudah mencoba memasukkan daun pegagan ke dalam toner tanpa membuatnya busuk. Artinya, hasil riset itu benar-benar kami tanamkan pada produk,” jelas Halim.

Selain itu, tanaman lain seperti mawar, kecombrang, ketepeng cina, bidara, hingga kumis kucing juga tengah diteliti. Sri Rahayu Widya Ningrum, Vice CEO PT Nose Herbal Indo, menjelaskan bahwa riset mereka berfokus pada fungsi spesifik seperti brightening (mencerahkan) melalui kolaborasi dengan Universitas Mulawarman.

Perusahaan yang mendapat penghargaan Academic Businessment and Government dari BPOM itu juga bekerjasama dengan dunia akademis untuk memastikan tanaman tidak ditebang habis, melainkan hanya diambil bagian tertentu agar tanaman tetap hidup dan lestari.

Soal keberlanjutan alam dan tanaman, produk kecantikan yang dihasilkan dari bahan dasar alam ini tidak akan mengganggu keberlanjutan dari tanaman itu sendiri. 

“Suistainabilitynya juga kami pikirkan. Jadi kami tidak hanya memakai tanaman aja tapi kami memikirkan juga ketika kami memakai bagian tanaman, maka tanaman tersebut kami pastikan tidak akan kami tebang tapi hanya akan memakai bagian-bagian dari tanamannya,” tuturnya. 

(Nadya Kurnia)

SHARE