Warga Singapura Lebih Pilih Beli Batangan dan Koin Emas Dibanding Perhiasan
Harga emas yang terus melonjak mendorong perubahan signifikan dalam perilaku konsumen di Singapura.
IDXChannel - Harga emas yang terus melonjak mendorong perubahan signifikan dalam perilaku konsumen di Singapura.
Pembeli kini lebih memilih batangan dan koin emas sebagai instrumen investasi dibandingkan perhiasan, seiring emas semakin dipandang sebagai penyimpan nilai di tengah ketidakpastian global.
Dilansir dari CNA, Senin (5/1/2026), Data World Gold Council menunjukkan, penjualan perhiasan emas di Singapura berdasarkan volume turun 8 persen secara tahunan pada kuartal III-2025. Penurunan tersebut terjadi setelah harga emas melonjak tajam, menjadikan 2025 sebagai salah satu tahun terlemah bagi penjualan perhiasan emas dalam beberapa waktu terakhir.
Namun, melemahnya permintaan perhiasan diimbangi oleh lonjakan tajam permintaan emas untuk investasi. Pembelian batangan dan koin emas melonjak 47 persen pada periode yang sama, mencerminkan pergeseran preferensi konsumen ke aset yang dinilai lebih stabil.
Reli harga emas sepanjang 2025 tercatat mencapai lebih dari 60 persen, didorong oleh meningkatnya permintaan investasi dan ketidakpastian global.
Saat ini, harga emas spot diperdagangkan di kisaran USD4.330 - USD4.400 atau setara Rp56,37 juta – Rp57,28 juta per ons, hampir dua kali lipat dibandingkan awal tahun lalu, dan sempat menyentuh rekor tertinggi sekitar USD4.550 atau sekitar Rp59,23 juta per ons pada bulan sebelumnya.
Presiden Asosiasi Perhiasan Singapura, Ho Nai Chuen, mengatakan batangan emas kelas investasi termasuk dalam kategori Logam Mulia Investasi yang dikecualikan dari Pajak Barang dan Jasa (GST), sehingga memengaruhi keputusan konsumen.
“Hal itu mendorong beberapa konsumen untuk memilih batangan emas daripada membeli perhiasan emas, sehingga mereka dapat mempertahankan nilai mata uang,” ujar Ho, yang juga direktur pelaksana On Cheong Jewellery.
Para peritel mencatat permintaan perhiasan, termasuk pada musim liburan, lebih lemah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Konsumen menjadi semakin sensitif terhadap harga, dengan sebagian memilih perhiasan yang lebih ringan, bahkan menjual atau menukar perhiasan lama mereka untuk memanfaatkan kenaikan harga emas. Untuk menyesuaikan diri, pedagang grosir dan peritel mulai memperbarui desain produk agar tetap menarik namun lebih terjangkau.
“Saat ini, konsumen mencari sesuatu yang lebih ringan,” kata Chong Cui Xin, manajer merchandising di G&J Goldsmiths & Jewellery.
Analis memperkirakan harga emas akan tetap tinggi ke depan, dengan faktor penawaran dan ketidakpastian global terus menopang daya tarik logam mulia tersebut. (Reporter: Nasywa Salsabila) (Wahyu Dwi Anggoro)