News

Xi Jinping Blak-blakan Ingin Yuan Jadi Mata Uang Global Saingi Dolar

Wahyu Dwi Anggoro 02/02/2026 11:21 WIB

Presiden China Xi Jinping secara eksplisit mengungkapkan ambisinya untuk menjadikan yuan sebagai mata uang utama.

Xi Jinping Blak-blakan Ingin Yuan Jadi Mata Uang Global Saingi Dolar. (Foto: Xinhua)

IDXChannel - Presiden China Xi Jinping secara eksplisit mengungkapkan ambisinya untuk menjadikan yuan sebagai mata uang utama kedua yang menantang hegemoni dolar Amerika Serikat (AS).

"China harus membangun mata uang yang kuat untuk mengamankan status sebagai mata uang utama yang banyak digunakan dalam perdagangan internasional, investasi, dan pasar valuta asing," kata Xi dalam tulisannya yang dirilis baru-baru ini, dilansir dari The Financial Times pada Senin (2/2/2026).

Ini merupakan pernyataan paling jelas dari Xi tentang kebijakan yuan kuat. Beijing selama ini dituduh kerap sengaja melemahkan yuan untuk menggenjot ekspor.

Dalam tulisannya, Xi menekankan bahwa untuk mengembangkan yuan menjadi mata uang utama, diperlukan bank sentral yang kuat yang mampu menerapkan kebijakan moneter yang efektif, lembaga keuangan yang kompetitif secara internasional, dan pusat keuangan internasional yang dapat menarik modal global dan memengaruhi pasar keuangan. 

Wacana yuan yang kuat dari Xi, ditambah dengan toleransi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap dolar yang lemah, berpotensi meningkatkan nilai yuan. 

Trump baru-baru ini memuji melemahnya nilai dolar sebagai hal yang bagus, menandakan bahwa ia tidak memandang dolar yang lemah secara negatif.  

Dolar yang lebih lemah dapat meningkatkan daya saing perusahaan ekspor AS, membantu menyelesaikan masalah defisit perdagangan besar-besaran yang telah lama diidentifikasi Trump sebagai masalah kronis di AS. 

Pangsa yuan dalam pembayaran perdagangan global telah meningkat pesat karena sanksi keuangan oleh AS dan sekutunya terhadap Rusia, Iran, dan negara lain. Menurut laporan bulanan SWIFT pangsa yuan dalam pembayaran perdagangan global naik dari 1,9 persen pada awal 2020 menjadi 8,4 persen pada November tahun lalu, menempati peringkat kedua setelah dolar AS.  

Meskipun pangsa dolar tetap dominan di angka 80,2 persen, angka tersebut telah menurun dari 86,9 persen pada awal 2020.

Namun, para ahli memperingatkan bahwa yuan menghadapi banyak tantangan untuk menjadi mata uang kunci global. Hambatan seperti kendali Beijing atas nilai tukar dan kurangnya kebebasan di pasar modal terus menekan status yuan.

Banyak analis percaya bahwa bahkan jika dominasi dolar melemah, euro, bukan yuan, yang akan mengisi kekosongan tersebut. Menurut Dana Moneter Internasional (IMF), sementara pangsa dolar dalam cadangan devisa bank sentral turun dari 59,4 persen pada 2001 menjadi 56,9 persen pada kuartal ketiga tahun lalu, pangsa euro naik dari 19,3 persen menjadi 20,3 persen Sebaliknya, pangsa yuan menurun dari 2,9 persen menjadi 1,9 persen. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE