IDXChannel - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan di dekat level penguatan pada Senin (2/2/2026). Investor menimbang seperti apa kebijakan Federal Reserve (The Fed) di bawah kepemimpinan Kevin Warsh, yang dikenal memiliki preferensi terhadap neraca bank sentral yang lebih kecil.
Yen juga kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada akhir pekan lalu menyoroti manfaat pelemahan yen dalam pidato kampanyenya.
Pernyataan tersebut bernada berbeda dengan sikap Kementerian Keuangan Jepang yang selama ini berupaya menahan pelemahan mata uang tersebut.
Melansir Investing, penunjukan Kevin Warsh oleh Presiden AS Donald Trump sebagai calon Ketua The Fed memicu gelombang aksi jual pada aset-aset berisiko dan membuat harga logam mulia anjlok pada Jumat pekan lalu, sementara dolar berhasil memangkas pelemahan yang terjadi di awal pekan sebelumnya.
Meski investor menilai Warsh cenderung hawkish, dia juga dinilai akan memperketat neraca The Fed. Langkah ini umumnya mendukung penguatan dolar karena mengurangi jumlah likuiditas di pasar.
Pada perdagangan awal Asia Senin, dolar AS tetap berada dalam posisi kuat, membuat euro menjauh dari level USD1,20 dan terakhir berada di USD1,1848.
Pound sterling turun 0,05 persen ke USD1,3680, sementara indeks dolar stabil di 97,22 setelah melonjak 1 persen pada Jumat.
Penasihat ekonomi global PIMCO dan mantan Wakil Ketua The Fed, Richard Clarida, mengatakan dia yakin Warsh mampu merealisasikan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini, bahkan berpotensi hingga tiga kali.
"Di luar dua atau tiga pemangkasan suku bunga berikutnya, kami menilai Warsh akan lebih berhati-hati, tergantung pada prospek inflasi,” ujar Clarida.
Di tempat lain, dolar Australia turun 0,54 persen ke USD0,69255, sementara dolar Selandia Baru melemah 0,3 persen ke USD 0,6001.