Kemenag Siapkan Rp43 Miliar untuk Ribuan Guru Pesantren dan Santri Terdampak Banjir di Aceh
Kemenag menyiapkan bantuan senilai lebih dari Rp43 miliar untuk ribuan guru pesantren dan santri di Aceh yang terdampak banjir pada akhir tahun lalu.
IDXChannel - Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan bantuan senilai lebih dari Rp43 miliar untuk ribuan guru pesantren dan santri di Aceh yang terdampak banjir pada akhir tahun lalu. Bantuan tersebut dijadwalkan mulai disalurkan pada pekan ketiga November 2026.
Bantuan itu terdiri atas Rp12,96 miliar untuk 4.321 guru pesantren dan Rp31,92 miliar untuk 17.738 santri. Masing-masing guru akan menerima Rp3 juta, sedangkan setiap santri mendapatkan Rp1,8 juta.
Kepala Kantor Wilayah Kemenag Aceh, Azhari, mengatakan bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi'i dalam kegiatan pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kanwil Kemenag Aceh.
"Bantuan yang hampir Rp13 miliar ini disalurkan bagi 4.321 penerima, atau setara Rp3.000.000 per guru pesantren terdampak bencana banjir akhir tahun lalu," kata Azhari, dikutip Jumat (6/11/2026).
"Sedangkan bantuan untuk santri terdampak banjir akhir tahun lalu, sejumlah Rp31.928.400.000. Bantuan yang hampir Rp32 miliar ini disalurkan bagi 17.738 santri atau setara Rp1.800.000 per santri," tambahnya.
Bantuan tersebut diterima Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Aceh, Muntasyir, bersama Ketua Tim Lembaga Pendidikan Alquran (LPQ) Bidang PD Pontren, Muzakkir.
Muntasyir menjelaskan, panitia tengah membuat rekening untuk masing-masing penerima. Dana bantuan akan ditransfer langsung setelah proses pembuatan rekening selesai.
Selain menyalurkan bantuan langsung, Kemenag juga terus melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi fasilitas yang rusak akibat banjir di Aceh.
Azhari melaporkan, rehabilitasi kantor Kemenag di Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Kota Langsa masih berlangsung. Sementara itu, pekerjaan rehabilitasi dan pengadaan peralatan Kantor Urusan Agama (KUA) telah mencapai progres fisik 85 persen.
Pemulihan fasilitas pendidikan juga dilakukan. Pembangunan kembali Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 5 Pidie Jaya yang hanyut diterjang banjir telah mencapai progres 43,31 persen.
Bangunan baru tersebut mencakup ruang kelas, gedung kantor, laboratorium komputer, perpustakaan, ruang UKS, dan kantin.
Adapun KUA Putri Betung di Gayo Lues yang hilang akibat banjir akan dibangun di lokasi baru. Pembangunan dilakukan di atas tanah yang diupayakan bersama melalui kemitraan Kantor Kemenag setempat.
Penanganan rumah ibadah dan pondok pesantren terdampak juga terus dilakukan melalui penyaluran bantuan secara bertahap.
Meski demikian, Azhari menyebut masih terdapat sejumlah kendala dalam proses pemulihan. Beberapa lokasi yang sebelumnya terdampak kembali dilanda banjir. Selain itu, waktu efektif yang tersisa untuk merealisasikan program hanya sekitar tiga bulan.
"Percepatan realisasi perlu menjadi perhatian bersama, mengingat waktu efektif yang tersisa sekitar tiga bulan. Karena itu, diperlukan tim pengawasan di tingkat pusat, Kanwil, serta kabupaten/kota," ujarnya.
Di sisi lain, Kemenag tengah menyiapkan struktur penanganan bencana yang lebih permanen melalui pembentukan Tim Koordinasi Penanganan Bencana.
Wamenag Romo Muhammad Syafi'i mengatakan pembentukan tim tersebut hampir rampung. Nantinya, tim akan memiliki koordinasi langsung mulai dari tingkat pusat hingga wilayah, kantor Kemenag kabupaten/kota, dan KUA.
"Alhamdulillah, sudah hampir selesai. Jadi kan ada tim pusat koordinasi langsung bukan dengan garis putus-putus ke wilayah, sampai ke kankemenag dan ke KUA. Dan kita sebenarnya selama ini personil kita di bawah itu sudah dipakai oleh BNPB. Ke depan kita langsung menjadi tim tanggap bencana," kata Wamenag.
Tim tersebut akan dipimpin Staf Ahli Menteri Agama Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia, Faisal Ali Hasyim.
Dalam rapat koordinasi pematangan tim pada 2 November 2026, Faisal menjelaskan tim akan berperan sebagai koordinator penanganan bencana. Tugasnya meliputi koordinasi bantuan tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi, pendataan wilayah dan korban terdampak, hingga penghimpunan dan penyaluran dana melalui rekening Kemenag Peduli.
(Febrina Ratna Iskana)