SYARIAH

Konflik Timur Tengah Belum Usai, Wamenhaj: Arab Saudi Menjamin Haji 2026 Berjalan Baik

Yuwantoro Winduajie 17/04/2026 10:55 WIB

Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak meminta jamaah haji Indonesia tidak perlu khawatir terhadap situasi konflik di kawasan Timur Tengah. 

Konflik Timur Tengah Belum Usai, Wamenhaj: Arab Saudi Menjamin Haji 2026 Berjalan Baik. (Foto Yuwantoro/IMG)

IDXChannel — Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak meminta jamaah haji Indonesia tidak perlu khawatir terhadap situasi konflik di kawasan Timur Tengah. 

Hal itu disampaikan Dahnil usai memberikan arahan dan melepas keberangkatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Jumat (17/4/2026).

Danhil mengatakan, hingga saat ini pemerintah kerajaan Arab Saudi memastikan kondisi tetap aman dan terkendali. Negara tersebut juga menjamin pelaksanaan ibadah haji tahun ini dapat berjalan dengan baik.

“Sampai dengan hari ini pemerintah kerajaan Arab Saudi memastikan semuanya baik-baik saja, semuanya bisa dikendalikan dan mereka menjamin proses perhajian tahun ini bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

Dahnil juga meyakini negara-negara yang tengah berkonflik memahami ibadah haji membawa pesan perdamaian bagi dunia.

“Haji itu sejatinya membawa pesan perdamaian, ada pesan kesetaraan, ada pesan perlindungan terhadap perempuan, ada pesan tidak menyakiti bahkan tumbuh-tumbuhan dan hewan tidak boleh disakiti. Jadi ada pesan perdamaian,” katanya.

Menurut dia, para pemimpin negara yang sedang berkonflik diharapkan mampu menangkap nilai-nilai tersebut, sehingga tidak mengganggu pelaksanaan ibadah haji.

Di sisi lain, dia menekankan pentingnya kesiapan petugas haji dalam memberikan pelayanan optimal kepada jamaah. Tahun ini, pemerintah mengirim lebih dari 400 petugas yang akan diberangkatkan secara bertahap.

“Mereka ini harus full melayani jamaah,” kata dia.

Dahnil mengungkapkan, tantangan pelayanan cukup besar mengingat karakteristik jamaah haji Indonesia di mana sebanyak 177 ribu jamaah dari 203 ribu jamaah masuk kategori risiko tinggi (risti) karena memiliki penyakit bawaan.

Selain itu, sekitar 55 ribu jamaah merupakan lulusan sekolah dasar, dan sekitar 100 ribu lainnya baru pertama kali bepergian ke luar negeri maupun naik pesawat.

“Jadi tentu butuh pendampingan bukan hanya secara fikih, tapi hal-hal teknis,” ujar Dahnil.

Dia menambahkan, mayoritas jamaah juga berasal dari kalangan pekerja informal, seperti petani sekitar 30 persen, serta buruh dan karyawan biasa sekitar 25 persen. Kondisi ini membuat peran petugas haji menjadi krusial dalam memastikan kelancaran ibadah para jamaah.

(Dhera Arizona)

SHARE