Google Bongkar Aksi Hacker China, 53 Organisasi di 42 Negara Jadi Target
Google membongkar sebuah kelompok hacker yang terkait dengan China dan telah membobol sedikitnya 53 organisasi di 42 negara.
IDXChannel - Google membongkar sebuah kelompok hacker yang terkait dengan China dan telah membobol sedikitnya 53 organisasi di 42 negara. Melansir Reuters, Rabu (25/2/2026), kelompok peretas tersebut, yang dilacak dengan nama UNC2814 dan Gallium, memiliki rekam jejak hampir satu dekade dalam menembus organisasi pemerintah dan perusahaan telekomunikasi.
"Ini adalah perangkat pengawasan berskala besar yang digunakan untuk memata-matai individu dan organisasi di seluruh dunia," kata kepala analis di Google Threat Intelligence Group, John Hultquist.
Google (GOOGL.O) dan mitra yang tidak disebutkan namanya menghentikan proyek Google Cloud yang dikendalikan oleh kelompok tersebut, mengidentifikasi dan menonaktifkan infrastruktur internet yang mereka gunakan, serta menonaktifkan akun yang dipakai kelompok itu untuk mengakses Google Sheets, yang digunakan untuk menjalankan operasi penargetan dan pencurian data.
"Penggunaan Google Sheets memungkinkan kelompok tersebut menghindari deteksi dan menyatu dengan lalu lintas jaringan normal, dan bukan merupakan kompromi terhadap produk Google mana pun," kata perusahaan itu.
Manajer senior di Google Threat Intelligence Group, Charlie Snyder, mengatakan kelompok tersebut telah mengonfirmasi akses ke 53 entitas yang tidak disebutkan namanya di 42 negara, dengan potensi akses di sedikitnya 22 negara lainnya pada saat gangguan dilakukan.
Snyder menolak mengidentifikasi entitas yang terdampak, tetapi mengatakan bahwa dalam satu kasus, kelompok itu memasang backdoor yang oleh Google disebut “GRIDTIDE” pada sebuah sistem yang berisi nama lengkap, nomor telepon, tanggal lahir, tempat lahir, nomor ID pemilih, dan nomor identitas nasional.
Penargetan tersebut konsisten dengan upaya untuk mengidentifikasi dan melacak target tertentu, kata perusahaan itu.
"Kampanye serupa telah digunakan untuk mengekstraksi catatan data panggilan, memantau pesan SMS, dan bahkan memantau individu yang ditargetkan melalui kemampuan penyadapan resmi milik perusahaan telekomunikasi," ujarnya.
Sementara itu, Juru bicara Kedutaan Besar China, Liu Pengyu, dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa keamanan siber adalah tantangan bersama yang dihadapi semua negara dan harus ditangani melalui dialog dan kerja sama.
"China secara konsisten menentang dan memerangi aktivitas peretasan sesuai hukum, dan pada saat yang sama dengan tegas menolak upaya untuk menggunakan isu keamanan siber guna mencemarkan atau memfitnah China," ujarnya.
Google menambahkan bahwa aktivitas ini berbeda dari aktivitas peretasan hacker China lainnya yang berfokus pada sektor telekomunikasi dan dilacak dengan nama "Salt Typhoon".
Kampanye tersebut, yang oleh pemerintah AS dikaitkan dengan China, menargetkan ratusan organisasi di Amerika Serikat serta tokoh-tokoh politik terkemuka AS.
(NIA DEVIYANA)