Technology

Riset Ensign Infosecurity: AI Mampu Percepat Serangan Siber dengan Biaya Lebih Rendah

Kurnia Nadya 16/09/2026 16:57 WIB

Penggunaan AI juga dapat menekan kebutuhan akan keahlian teknis yang umumnya diperlukan oleh peretas-peretas.

Riset Ensign Infosecurity: AI Mampu Percepat Serangan Siber dengan Biaya Lebih Rendah. (Foto: MNC Media)

IDXChannel—Hasil riset Ensign InfoSecurity 2026 bertajuk ‘Cyber Threat Landscape Report’ melaporkan bahwa artificial intelligence atau kecerdasan buatan (AI), mampu mempercepat aktivitas serangan siber sekaligus menekan biaya. 

Penggunaan AI juga dapat menekan kebutuhan akan keahlian teknis yang umumnya diperlukan oleh peretas-peretas pada masa sebelum kecerdasan buatan marak digunakan oleh masyarakat umum. 

Seperti diketahui, sebelumnya, umumnya serangan siber hanya dilakukan oleh orang-orang dengan keahlian tertentu di bidang informasi teknologi. Namun, dengan keberadaan artificial intelligence, serangan siber jadi semakin mudah dan murah untuk dilakukan. 

Dalam risetnya, Ensign InfoSecurity menguji kemampuan 10 model. Hasil riset itu menunjukkan bahwa seluruh model berhasil memperoleh akses awal ke lingkungan simulasi. 

Tiga model, yakni GPT-5.6 Sol dari OpenAI, Claude Opus 4.8 dari Anthropic, dan GLM-5.2 dari Z.AI, mencatat tingkat keberhasilan tinggi pada tujuh dari delapan tujuan serangan yang diuji. 

Adanya kesenjangan biaya operasional antara model menjadi faktor penentu akses pelaku terhadap kemampuan serangan AI. Meskipun mampu menembus akses awal, performa model AI mengalami penurunan ketika pengujian berlanjut ke tahapan serangan yang lebih kompleks. 

Selain itu, tidak ada model yang mencapai tingkat keberhasilan tinggi dalam menghindari sistem Endpoint Detection and Response (EDR) selama pengujian. Temuan ini menunjukkan bahwa mekanisme deteksi dan respons keamanan tetap berpotensi membatasi perluasan serangan setelah akses awal diperoleh.

Selain menguji kemampuan AI, laporan Ensign juga menyoroti bagaimana aktivitas ransomware di ASEAN meningkat dua kali lipat pada 2025. Laporan tersebut juga mencatat bahwa pencurian data semakin berperan sebagai tujuan serangan. 

Sementara itu, aktivitas hacktivisme mencapai 19,1 persen dan menyasar infrastruktur penting, termasuk sektor utilitas, energi, transportasi, dan telekomunikasi.

Adanya perkembangan ancaman terhadap sekuritas jaringan siber membuat Ensign mendorong setiap organisasi atau perusahaan untuk memperkuat fondasi keamanan siber melalui pemindaian aset yang dapat diakses dari internet, penerapan patch secara berkala, serta pengujian pertahanan terhadap model AI terbaru.

Melalui Ensign Cyber AI Range, Ensign berupaya memberikan gambaran mengenai kemampuan serangan model AI dan implikasinya terhadap strategi pertahanan siber organisasi di Asia Pasifik.

(Birru Aisyah)

SHARE