Technology

SpaceX Ajukan Prospektus IPO, Ungkap Kondisi Keuangan Perusahaan

Wahyu Dwi Anggoro 21/05/2026 11:28 WIB

SpaceX akhirnya memberikan gambaran tentang keuangan internalnya kepada investor.

SpaceX Ajukan Prospektus IPO, Ungkap Kondisi Keuangan Perusahaan. (Foto: SpaceX)

IDXChannel - SpaceX akhirnya memberikan gambaran tentang keuangan internalnya kepada investor, dengan mengajukan prospektus penawaran umum perdana (IPO) S-1 kepada Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC).

Dilansir dari Yahoo Finance pada Kamis (21/5/2026), pengajuan ini dilakukan menjelang roadshow investornya, yang direncanakan digelar pada 5 Juni.

Untuk tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2026, perusahaan roket tersebut, yang akan diperdagangkan dengan kode saham SPCX di Nasdaq, melaporkan pendapatan konsolidasi sebesar USD4,69 miliar, kerugian operasional sebesar USD1,94 miliar, dan EBITDA yang disesuaikan sebesar USD1,13 miliar.

Pada 2025, perusahaan milik Elon Musk itu menghasilkan pendapatan konsolidasi sebesar USD18,67 miliar, dan kerugian operasional sebesar USD2,59 miliar, serta EBITDA yang disesuaikan sebesar USD6,58 miliar.

SpaceX menyatakan bahwa sebagian besar pendapatan konsolidasi berasal dari segmen Antariksa dan Konektivitas.

Segmen Konektivitas, yang terutama didorong oleh Starlink, menghasilkan pendapatan sebesar USD3,26 miliar untuk 3 bulan yang berakhir pada 31 Maret 2026, dengan laba operasi sebesar USD1,19 miliar, dan EBITDA yang disesuaikan sebesar USD2,09 miliar. 

Untuk 2025, unit ini melaporkan pendapatan sebesar USD11,39 miliar, laba operasi sebesar USD4,42 miliar, dan EBITDA yang disesuaikan sebesar USD7,17 miliar.

SpaceX mengatakan telah meluncurkan lebih dari 9.600 satelit Starlink dan memiliki 10,3 juta pelanggan pada akhir Maret.

Segmen Antariksa SpaceX, yang terdiri dari bisnis peluncuran roketnya, menghasilkan pendapatan sebesar USD619 juta, kerugian operasional sebesar USD662 juta, dan kerugian EBITDA yang disesuaikan sebesar USD351 juta untuk tiga bulan yang berakhir pada 31 Maret 2026. Pada 2025, segmen Antariksa menghasilkan pendapatan sebesar USD4,09 miliar, kerugian operasional sebesar USD657 juta, dan EBITDA yang disesuaikan sebesar USD653 juta.

SpaceX mengungkapkan telah menghabiskan lebih dari USD15 miliar untuk mengembangkan roket generasi berikutnya, Starship, yang dapat mengangkut kargo berukuran besar dan berpotensi digunakan sebagai wahana pendaratan di Bulan. 

Segmen Kecerdasan Buatan (AI) SpaceX, yang mencakup bisnis xAI yang sekarang disebut SpaceXAI, mencatatkan pendapatan sebesar USD818 juta, kerugian operasional sebesar USD2,47 miliar, dan kerugian EBITDA yang disesuaikan sebesar USD609 juta pada kuartal I-2026. SpaceX mengatakan segmen AI mengalami kerugian sebesar USD6,35 miliar pada 2025.

Kerugian operasional SpaceX sebagian besar disebabkan oleh segmen AI. Segmen Antariksa dan Konektivitas SpaceX menguntungkan baik secara operasional maupun EBITDA. 

SpaceX diharuskan untuk mengajukan prospektusnya secara publik 15 hari sebelum roadshow IPO dimulai. Roadshow memulai proses di mana SpaceX dan penjamin emisi menyebarkan penawaran kepada investor besar dan perusahaan pialang.

SpaceX telah secara rahasia mengajukan dokumen S-1 ke SEC pada April untuk mendapatkan umpan balik mengenai IPO yang akan datang. Pada saat itu, SpaceX dilaporkan menargetkan untuk mengumpulkan dana hingga USD75 miliar, dengan valuasi mendekati USD1,8 triliun.

Valuasi itu akan melampaui Tesla, produsen mobil listrik yang dipimpin milik Musk, yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD1,4 triliun.

Setelah saham dialokasikan kepada investor institusional dan lainnya, prospektus final dirilis, dan saham mulai diperdagangkan pada hari berikutnya setelah penetapan harga.

Bagi Musk, IPO SpaceX adalah puncak dari mimpinya untuk membangun roket yang dapat digunakan untuk kolonisasi Mars. Ia mendirikan perusahaan tersebut pada 2002, dan pada 2012, SpaceX mulai mengirimkan kargo dengan roket ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Musk dilaporkan akan memiliki sekitar 42 persen saham SpaceX sebelum adanya dilusi. SpaceX perlu mencapai valuasi USD1,6 triliun agar Musk menjadi triliuner pertama di dunia. (Wahyu Dwi Anggoro)

SHARE