IDXChannel - HSBC memprediksi Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate satu kali lagi pada akhir 2026. Langkah tersebut diproyeksikan menjadi penutup dari rangkaian siklus pengetatan moneter bank sentral Indonesia.
Chief Asia Economist HSBC, Frederic Neumann, mengatakan BI telah bertindak sangat agresif di awal tahun dengan menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang periode 20 Mei hingga 18 Juni 2026 guna menstabilkan mata uang domestik.
“Kami berpikir ada satu kali kenaikan lagi yang akan datang akhir tahun ini, tetapi kemudian itulah akhir dari siklus pengetatan,” kata Frederic dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026, Selasa (29/9/2026).
"Ya, jadi kita hampir berada di akhir siklus pengetatan moneter di Indonesia. Kita telah melihat BI sangat agresif di awal tahun ini, dan jadi mereka telah melakukan sebagian besar pekerjaan dalam hal menstabilkan rupiah," ujar dia.
Frederic menilai efektivitas kebijakan moneter BI mulai terlihat seiring berangsur pulihnya stabilitas nilai tukar rupiah yang diiringi masuknya kembali aliran modal asing (capital inflow). Alhasil, pergerakan rupiah pada 2027 diprediksi bergerak dalam rentang yang relatif sempit.
"Dan Anda sudah melihat stabilitas mulai masuk dalam hal rupiah, Anda melihat arus modal masuk kembali, jadi kami berpikir memasuki tahun depan rentang perdagangan rupiah akan relatif sempit," kata dia.
Dia menambahkan, apabila terdapat penyesuaian kondisi likuiditas ke depan di luar kenaikan suku bunga acuan, BI masih dapat mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Jika ada perubahan kebijakan di luar satu kali kenaikan suku bunga tersebut, mungkin BI kadang-kadang akan menggunakan SRBI untuk menyerap sebagian likuiditas guna menyempurnakan kondisi moneter pada dasarnya, tetapi ini adalah penyesuaian marjinal," ujar Frederic.
Frederic juga menekankan tren kenaikan suku bunga moneter tidak serta-merta berdampak negatif bagi laju pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, tingkat suku bunga yang terukur justru mengukuhkan stabilitas nilai tukar serta ekspektasi pasar.
"Apakah ini membatasi pertumbuhan? Kami tidak benar-benar melihat itu. Jika Anda melihat pertumbuhan pinjaman bank, sebenarnya penyaluran kredit untuk investasi telah mengalami percepatan yang cukup pesat," katanya.
Berdasarkan data Bank Indonesia per Agustus 2026, penyaluran kredit perbankan tumbuh 13,65 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat tipis dibanding Juli 2026 yang sebesar 13,58 persen (yoy). Pertumbuhan ini ditopang kuat oleh kredit investasi yang melonjak 25,11 persen (yoy), diikuti kredit modal kerja 11,45 persen, dan kredit konsumsi 5,07 persen.
"Pinjaman modal kerja telah dipercepat, jadi kita sebenarnya melihat pertumbuhan kredit perbankan yang lebih kuat meskipun suku bunga lebih tinggi," ujarnya.
"Dan jadi satu hal yang ingin saya sampaikan adalah suku bunga yang lebih tinggi tidak selalu berdampak negatif bagi pertumbuhan jika itu membantu menstabilkan mata uang dan menstabilkan ekspektasi," kata Frederic.
Lebih lanjut, HSBC menilai Indonesia tidak perlu secara agresif mengekor atau membekor kebijakan pengetatan moneter lanjutan dari Bank Sentral AS (The Fed).
"Bahkan jika Federal Reserve menaikkan suku bunga lebih banyak lagi, sebenarnya Indonesia tidak memerlukan pengetatan moneter lebih lanjut," kata Frederic.