sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

BI Diproyeksi Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen pada Oktober 2026 di Tengah Sentimen MSCI

Banking editor Nia Deviyana
20/10/2026 13:29 WIB
Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga pada Rabu, menurut mayoritas tipis ekonom yang disurvei Reuters.
BI Diproyeksi Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen pada Oktober 2026 di Tengah Sentimen MSCI. Foto: iNews Media Group.
BI Diproyeksi Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen pada Oktober 2026 di Tengah Sentimen MSCI. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) diperkirakan mempertahankan suku bunga pada Rabu, menurut mayoritas tipis ekonom yang disurvei Reuters. Para ekonom menilai sentimen MSCI hanya akan berdampak kecil terhadap keputusan kebijakan moneter.

Rupiah, yang telah melemah sekitar 8 persen sepanjang tahun ini, turun hampir 1 persen usai MSCI mengejutkan pasar domestik pada Jumat. MSCI menyatakan tengah mempertimbangkan untuk mengubah status Indonesia menjadi standalone dari kategori emerging markets yang telah disandang sejak 1989.

Peringatan tersebut mendorong sejumlah ekonom mengubah proyeksi mereka pada Jumat dan Senin. Sebelumnya, mereka memperkirakan tidak ada perubahan suku bunga pada 21 Oktober, tetapi kini memprediksi kenaikan suku bunga. Citibank, yang sebelumnya memperkirakan tidak ada perubahan, kini memproyeksikan kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin sebagai langkah antisipatif.

Namun, tingkat inflasi secara umum masih terkendali. Inflasi utama tercatat sebesar 3,28 persen pada September, masih dalam kisaran target BI sebesar 1,5–3,5 persen. Sementara itu, inflasi inti melambat menjadi 2,84 persen, yang dapat memberikan keyakinan kepada para pembuat kebijakan untuk mempertahankan suku bunga untuk sementara waktu.

Sebanyak 15 dari 29 ekonom yang disurvei pada 13–19 Oktober, memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate (BI Rate) di level 5,75 persen pada Rabu. Mereka juga memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga fasilitas simpanan (deposit facility) dan fasilitas pinjaman (lending facility) masing-masing di level 4,75 persen dan 6,50 persen.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 5 persen pada awal perdagangan Senin. Penurunan tersebut terjadi setelah IHSG anjlok 11,6 persen pada Jumat, menjadi penurunan harian terdalam sejak Januari 1998, menyusul peringatan MSCI yang mengejutkan pasar.

"Saya pikir masih terlalu dini untuk menyatakan bahwa hal ini akan berdampak terhadap kebijakan moneter, tetapi jelas kabar pada Jumat telah memperumit situasi," kata Kepala Ekonom Asia Berkembang di Pantheon Macroeconomics yang berbasis di Inggris, Miguel Chanco, dilansir Reuters, Selasa (20/10/2026).

"Terlepas dari peristiwa ini yang mengejutkan semua pihak, fundamental ekonomi masih belum menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga diperlukan, terutama setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin pada awal tahun ini,” ujar dia.

Sejumlah ekonom berpendapat BI dapat terus mengandalkan instrumen non-suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah-langkah tersebut mencakup menurunkan biaya lindung nilai (hedging) valuta asing melalui bank sentral, mendorong penggunaan mata uang selain dolar AS, serta memanfaatkan cadangan devisa sebesar USD146,3 miliar alih-alih menaikkan suku bunga.

Namun, pada survei yang berbeda sebelumnya, mayoritas cukup besar ekonom, yakni 15 dari 22 responden, memperkirakan suku bunga acuan akan naik dari 5,75 persen menjadi 6 persen atau lebih sebelum akhir tahun.

Pandangan tersebut telah muncul bahkan sebelum dampak negatif dari pengumuman MSCI, mencerminkan kekhawatiran bahwa kenaikan harga minyak dapat mendorong inflasi, sementara sikap hawkish Federal Reserve AS akan terus menekan rupiah.

Tidak ada konsensus yang jelas di antara para ekonom mengenai arah suku bunga setelah tahun ini. Proyeksi median menunjukkan suku bunga kebijakan akan bertahan di level 6 persen sepanjang 2027.

"Pada akhirnya, salah satu prioritas utama mereka adalah stabilitas rupiah," kata Ekonom Senior ASEAN di OCBC Bank, Lavanya Venkateswaran.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement