Di saat bersamaan, terkendalinya sentimen global serta kelancaran proses transisi kepemimpinan di BI memberikan sentimen positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Kondisi ini membuat BI tidak menghadapi urgensi mendesak untuk menaikkan suku bunga, terlebih setelah mengerek BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) pada beberapa bulan sebelumnya.
"Mempertahankan suku bunga tersebut juga akan menghindari penambahan tekanan yang tidak perlu terhadap sektor riil, karena hal itu akan meningkatkan biaya pendanaan," ungkap Riefky.
Riefky menambahkan bahwa kombinasi kepastian sikap The Fed yang menahan suku bunga serta transisi kepemimpinan BI yang berjalan kondusif berhasil menarik kembali aliran modal asing (capital inflow).
Sepanjang akhir bulan lalu hingga 13 Agustus 2026, arus modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai USD0,28 miliar, terdiri atas USD0,24 miliar pada Surat Berharga Negara (SBN) dan USD0,04 miliar di pasar saham.
Aksi beli investor asing pada SBN turut mendorong penurunan imbal hasil (yield). Dalam dua pekan terakhir, yield SBN tenor 10 tahun melandai 11 bps dari 7,32 persen menjadi 7,21 persen. Sementara yield SBN tenor 1 tahun merosot 25 bps dari 6,90 persen ke posisi 6,65 persen.