Secara spasial, indeks inklusi di perkotaan melonjak 0,99 poin persentase, sedangkan di pedesaan merangkak naik 0,36 poin persentase. Daerah dengan tingkat inklusi keuangan konvensional tertinggi secara berurutan dipimpin oleh DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Kepulauan Riau.
Di sisi lain, wilayah Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Maluku Utara masih memerlukan penguatan akses lebih lanjut karena mencatatkan angka inklusi konvensional terendah nasional.
Untuk inklusi syariah, Provinsi Aceh mencatatkan penetrasi tertinggi bersama Kepulauan Riau dan Riau, sementara Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua Barat, dan Papua Pegunungan berada di jajaran terbawah.
Adapun pola sebaran data inklusi berdasarkan tingkat edukasi menunjukkan tren inklusi yang kian meluas bahkan di kalangan akar rumput. Kelompok masyarakat berpendidikan dasar hingga yang belum pernah mengenyam bangku sekolah pun tercatat mengalami perbaikan akses keuangan secara rata-rata.
“Berdasarkan kelompok umur, terlihat bahwa kelompok usia produktif usia 26 sampai dengan 35 tahun memiliki tingkat inklusi keuangan tertinggi yaitu 96,27 persen, sebaliknya, indeks inklusi keuangan kelompok usia 15 sampai 17 tahun dan kelompok 51 sampai 79 tahun masih lebih rendah daripada nasional," tutur Amalia.
(NIA DEVIYANA)