Kemitraan tersebut diproyeksikan menghasilkan efisiensi anggaran sekitar Rp4,23 triliun per tahun melalui penyediaan telur dengan harga sekitar 10 sampai 15 persen lebih rendah dibandingkan harga pasar.
Pada sisi hilir, OJK bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga membuka peluang perluasan pasar bagi pelaku usaha ayam petelur, baik ke luar Jawa Barat maupun pasar ekspor.
Berdasarkan data semester I 2026, nilai ekspor fertilized eggs for incubation of fowl atau telur tetas Jawa Barat mencapai US$550,23 ribu, meningkat 513 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025, dengan negara tujuan antara lain Myanmar, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
Pengembangan hilirisasi juga diarahkan pada pengolahan telur menjadi produk bernilai tambah, antara lain tepung telur, produk sarapan Breggfast, pupuk berbahan cangkang telur, serta nutrisi hewan peliharaan.
Diversifikasi produk tersebut dapat memperluas pasar sekaligus mengurangi potensi kerugian peternak akibat masa simpan telur ayam yang relatif singkat.