sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Utang Luar Negeri Indonesia Naik 4,9 Persen, Tembus USD454,8 Miliar per Juli 2026

Banking editor Desi Angriani
15/09/2026 12:35 WIB
Secara tahunan, ULN Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 4,9 persen (yoy).
Utang Luar Negeri Indonesia Naik 4,9 Persen, Tembus USD454,8 Miliar per Juli 2026 (Foto: dok unsplash)
Utang Luar Negeri Indonesia Naik 4,9 Persen, Tembus USD454,8 Miliar per Juli 2026 (Foto: dok unsplash)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar USD454,8 miliar, relatif stabil dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya sebesar USD454,5 miliar. 

Secara tahunan, ULN Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 4,9 persen (yoy). Perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh peningkatan ULN publik di tengah penurunan ULN swasta.

"Struktur ULN Indonesia tetap sehat didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tercatat sebesar 30,7 persen pada Juli 2026 dan didominasi oleh ULN jangka panjang," ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi, Selasa (15/9/2026).

Sementara itu, posisi ULN pemerintah pada Juli 2026 tercatat USD218,4 miliar atau tumbuh sebesar 3,2 persen (yoy). Perkembangan ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap terjaga. 

"Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal," tuturnya.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22 persen dari total ULN pemerintah), Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,7 persen), Jasa Pendidikan (16,2 persen), Konstruksi (11,5 persen), serta Transportasi dan Pergudangan (8,5 persen). 

"Posisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali mengingat hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang," kata dia.

Lebih lanjut, posisi ULN swasta pada Juli 2026 tercatat sebesar USD194,5 miliar atau mengalami turun sebesar 1,2 persen (yoy). 

Perkembangan tersebut didorong oleh ULN kelompok peminjam bukan lembaga keuangan (non financial corporations) dan lembaga keuangan (financial corporations) yang masing-masing mengalami kontraksi sebesar 1,4 persen (yoy) dan 0,3 persen (yoy). 

Berdasarkan sektor ekonomi, posisi ULN swasta terutama berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan dan Penggalian dengan pangsa mencapai 80,6 persen dari total ULN swasta. 

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement