sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

China Berhasil Pangkas Konsumsi BBM di Tengah Perang Iran

Economics editor Nia Deviyana
12/06/2026 20:00 WIB
Goldman Sachs memperkirakan penurunan penggunaan bensin dan produk terkait sekitar 20 persen pada April.
China Berhasil Pangkas Konsumsi BBM di Tengah Perang Iran. Foto: Freepik.
China Berhasil Pangkas Konsumsi BBM di Tengah Perang Iran. Foto: Freepik.

IDXChannel - Tiga bulan sejak perang Iran dimulai, pasar minyak mulai menghadapi kenyataan baru yang tak terduga di mana China yang merupakan importir terbesar di dunia, berhasil memangkas penggunaan bahan bakar dari yang sebelumnya diperkirakan.

Melansir Reuters, Jumat (12/6/2026), penjualan bensin di Sinopec yang mengoperasikan jaringan SPBU terbesar di China dan merupakan kilang terbesar di dunia, turun 8 persen secara tahunan pada April, sementara diesel turun 6 persen, menurut sumber industri yang mengetahui data internal.

Penggunaan bahan bakar di China sebenarnya sudah menurun dalam beberapa tahun terakhir akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya penggunaan mobil serta truk listrik, namun penurunan terbaru ini sangat tajam dan mengejutkan pelaku industri.

Goldman Sachs memperkirakan penurunan penggunaan bensin dan produk terkait sekitar 20 persen pada April, sementara GL Consulting yang berbasis di China memperkirakan penurunan sekitar 15 persen.

Berbeda dengan masa pandemi, bukan berarti masyarakat China bepergian lebih sedikit. Sebaliknya, mereka mengubah cara bepergian di mana perjalanan kereta api meningkat sekitar 10 persen secara tahunan pada Maret dan April, dibandingkan sekitar 5 persen tahun lalu, menurut data Kementerian Perhubungan. 

Perjalanan dengan kereta bawah tanah atau taksi, yang di banyak kota sudah menggunakan listrik, juga meningkat pesat.

Armada kendaraan listrik (EV) China, yang sejauh ini merupakan yang terbesar di dunia, juga semakin banyak digunakan pada April. Pengisian daya meningkat 69 persen dibandingkan tahun sebelumnya hingga mencapai rekor tertinggi, menurut China Charging Alliance yang didukung negara.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa China dapat beroperasi dengan lebih sedikit bahan bakar daripada yang sebelumnya diperkirakan, yang berarti kebutuhan impor minyak menjadi lebih rendah. Sekitar setengah konsumsi minyak mentah China diolah menjadi diesel atau bensin.

"Sepertinya konsumen telah membuat pilihan ekonomi secara diam-diam. Menghadapi kenaikan harga bensin, diesel, dan tiket pesawat, banyak yang tampaknya beralih dari transportasi berbasis minyak," tulis analis JP Morgan pada akhir Mei.

China telah memangkas impor minyak mentah secara drastis sejak awal perang, sebagian dengan memanfaatkan cadangan yang dibangun saat harga masih murah, sehingga meredakan tekanan akibat hampir tertutupnya Selat Hormuz dan menahan kenaikan harga.

Impor minyak pada Mei anjlok 29 persen ke level terendah dalam delapan tahun, yakni 7,8 juta barel per hari, setelah turun 20 persen pada April.

Para analis mengatakan bahwa kemungkinan perubahan perilaku ini akan bertahan dan mempercepat penurunan penggunaan bahan bakar, yang berdampak besar pada permintaan minyak global serta sektor kilang China yang sudah menghadapi kelebihan kapasitas.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement