Misbakhun turut mengkritisi latar belakang historis batas 3 persen yang mengacu pada Maastricht Agreement di Eropa.
Ia menyinggung bahwa negara-negara Eropa pada era pasca-Perang Dunia II telah melakukan ekspansi pembangunan besar-besaran dengan rasio utang menembus 100 persen lewat pemanfaatan Marshall Plan, sebelum akhirnya membatasi defisit usai mencapai tingkat kemakmuran.
Misbakhun juga membandingkan kondisi tersebut dengan capaian China yang berhasil melompat dari negara berpendapatan rendah ke menengah-atas dalam waktu singkat tanpa terikat oleh restriksi defisit yang sempit.
"Apakah China membicarakan tentang defisit 3 persen? Kepentingan nasional mereka lebih penting dari semuanya," tegas Misbakhun. (Febrina Ratna Iskana)