IDXChannel – Hilirisasi mineral menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat ekonomi nasional. Melalui proses pengolahan di dalam negeri, sumber daya alam tidak lagi berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diubah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan menjadi bagian dari rantai industri yang lebih panjang.
Perubahan tersebut pada akhirnya bukan sekadar soal meningkatkan nilai jual hasil tambang. Hilirisasi juga membuka ruang bagi tumbuhnya manufaktur, investasi, lapangan kerja, serta kegiatan ekonomi baru di daerah penghasil sumber daya. Dengan demikian, hilirisasi berpotensi mengubah struktur ekonomi Indonesia dari yang tadinya bertumpu pada sektor ekstraktif menuju ekonomi yang semakin ditopang industri pengolahan.
Peluang itu didukung oleh besarnya sumber daya mineral Indonesia. Untuk nikel, misalnya, Indonesia memiliki sekitar 5,3 miliar ton cadangan atau sekitar 42 persen dari cadangan dunia. Indonesia juga tercatat memiliki cadangan timah terbesar di dunia, dengan kontribusi sekitar 34 persen terhadap cadangan global pada 2024 berdasarkan data Badan Geologi. Posisi tersebut memberikan modal penting bagi Indonesia untuk membangun rantai industri berbasis mineral di dalam negeri.
Nikel dan timah juga memiliki keterkaitan dengan berbagai industri manufaktur, termasuk kendaraan listrik dan sektor strategis lainnya. Karena itu, pengembangan industri pengolahan mineral tidak hanya berkaitan dengan komoditas pertambangan, tetapi juga dengan kemampuan Indonesia mengambil posisi yang lebih besar dalam rantai pasok industri global. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan, realisasi investasi hilirisasi mineral pada semester I-2026 mencapai Rp206,5 triliun.
Dampak hilirisasi juga terlihat dari bergesernya pusat-pusat aktivitas ekonomi di daerah penghasil sumber daya. Masuknya investasi dan pembangunan fasilitas pengolahan mendorong kegiatan ekonomi yang sebelumnya lebih banyak bertumpu pada pertambangan atau sektor primer berkembang ke industri pengolahan dan kegiatan pendukung lainnya. Kementerian ESDM mencatat, perkembangan hilirisasi kini semakin menyebar ke luar Jawa, seiring masuknya investasi ke berbagai daerah penghasil mineral.