IDXChannel - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan kebutuhan etanol untuk mewujudkan BBM E20 diperkirakan mencapai 400-500 ribu kilo liter per tahun.
Sementara itu, kapasitas produksi nasional saat ini baru 70.500 kilo liter.
"Sementara sih masih 70.500 kiloliter, itu kurang, masih kurang banyak. Jadi kita berharap ada pertambahan feedstock secepat mungkin, karena kalau mau E20 di 2028 itu juga harus tambah banyak. Paling minimal itu kan kita perlu 400.000, bertahap terus 500.000, naik-naik terus," ujarnya saat ditemui usai acara Penghargaan Energi Subroto Tahun 2026 di Jakarta, Jumat malam (23/10/2026).
Eniya mengatakan saat ini telah terdapat komitmen dari badan usaha yang berkolaborasi dengan PT Pertamina (Persero) untuk pembangunan 11 pabrik etanol baru. Namun detail lokasi dan kapan akan direalisasikan belum secara lengkap dijelaskan.
"Kita sih menghitungnya sudah ada sekitar perencanaan 11 pabrik baru. Itu kolaborasinya sama Pertamina," tambahnya.
Selain pembangunan pabrik baru, upaya pemerintah untuk peningkatan kapasitas produksi etanol dilakukan dengan melakukan revitalisasi sejumlah pabrik yang telah beroperasi. Hal ini terutama untuk wilayah-wilayah produksi yang berada di pulau Jawa.
"Jawa dulu, dan itu menyesuaikan infrastruktur yang sudah dibangun oleh Pertamina. kemarin di perizinan, lingkungan, dan sebagainya itu disamakan dengan biodiesel," kata Eniya.
Sebelumnya, Menko Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendorong pemerintah daerah memanfaatkan lahan tidur untuk mengembangkan tanaman penghasil bahan baku bioetanol.
Bahlil menyebut sejumlah komoditas pertanian, seperti jagung, singkong, dan tebu, berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku produksi etanol. Langkah ini untuk mengurangi ketergantungan impor BBM dengan cara mencampur etanol dalam bensin.
"Pak Bupati, bahan bakunya dari jagung, singkong, tebu. Pabrik Karawang ini masih ada lahan tidur, bisa diarahkan menanam hasil-hasil perkebunan yang berorientasi pada bahan baku," kata Bahlil saat memberikan sambutan dalam peresmian operasi kilang LPG PT Energi Nusantara Perkasa di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10).
Bahlil menyebutkan, Pemerintah akan menciptakan pasar bagi produk bioetanol melalui mandatori penggunaan etanol dalam campuran bahan bakar. Dalam skema tersebut, Pertamina disiapkan menjadi pihak yang menyerap produksi etanol yang dihasilkan di dalam negeri.
Kepastian pasar melalui skema penyerapan tersebut diharapkan dapat mendorong investasi pada industri bioetanol. Di sisi hulu, kebutuhan bahan baku juga berpotensi membuka peluang bagi petani dan pelaku usaha pertanian untuk memasok komoditas bagi industri pengolahan.
"Seluruh etanol yang akan diambil itu off taker -nya Pertamina, karena kita akan bikin mandatori. Ini dalam rangka strategi untuk mengurangi impor BBM di negara kita," lanjut Bahlil.
(Wahyu Dwi Anggoro)