sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Investor Australia Tertarik Masuk Bisnis Hilirisasi Nikel di Indonesia

Economics editor Rohman Wibowo
02/07/2026 17:53 WIB
BKPM mengungkapkan, Pure Battery Technologies (PBT) berencana membangun fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia.
BKPM mengungkapkan, Pure Battery Technologies (PBT) berencana membangun fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia. (Foto: Ist)
BKPM mengungkapkan, Pure Battery Technologies (PBT) berencana membangun fasilitas precursor Cathode Active Material (pCAM) di Indonesia. (Foto: Ist)

"Potensi tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan nilai ekspor sebesar USD857 miliar dan menciptakan lebih dari tiga juta lapangan kerja langsung," katanya.

Dalam forum dengan pemerintah dan pebisnis Australia baru-baru ini, Todotua menitikberatkan bahwa kedua negara memiliki ekonomi yang saling melengkapi, didukung oleh kerangka kerja sama IA-CEPA. Indonesia juga terus melakukan reformasi iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan, pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, serta pengembangan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus.

"Kami mengundang investor Australia untuk menjadi bagian dari babak baru pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui investasi yang berorientasi pada hilirisasi, infrastruktur, ketahanan pangan, transisi energi, dan ekonomi hijau," imbuhnya.

Selain itu, Todotua juga menekankan pentingnya memperkuat konektivitas logistik kawasan melalui optimalisasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II sebagai jalur strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Australia sebagai negara yang tidak jauh dari jalur laut tersebut, digadang-gadang bisa menjadi mitra untuk memafaatkan jalur strategis laut tersebut bagi arus pelayaran global.

"ALKI II merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui Selat Lombok dan Selat Makassar. Pada 2024, koridor ini dilalui perdagangan bijih besi senilai A$138 miliar, batu bara A$91 miliar, dan LNG A$69 miliar. Potensi tersebut menjadi peluang besar bagi Indonesia dan Australia untuk memperkuat rantai pasok, logistik, serta investasi di kawasan," tuturnya.

(Rahmat Fiansyah)  

Halaman : 1 2 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement