sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Jaga Pasokan Domestik, RI Buka Peluang Impor Minyak dari Brunei

Economics editor Nia Deviyana
16/03/2026 14:36 WIB
Brunei memiliki kapasitas produksi minyak yang mencapai sekitar 100 ribu hingga 110 ribu barel per hari.
Jaga Pasokan Domestik, RI Buka Peluang Impor Minyak dari Brunei. Foto: iNews Media Group.
Jaga Pasokan Domestik, RI Buka Peluang Impor Minyak dari Brunei. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Indonesia menjajaki potensi diversifikasi pasokan minyak dari Brunei Darussalam. Dengan kapasitas produksi minyak Brunei yang mencapai sekitar 100 ribu hingga 110 ribu barel per hari, Indonesia membuka peluang penjajakan impor minyak bumi dari negara tersebut untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik.

"Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kita dorong, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam pertemuan bilateral strategis dengan Deputy Minister (Energy) at the Prime Minister's Office Brunei Darussalam, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah di Tokyo, Minggu (16/3/2026) waktu setempat.

Bahlil menambahkan, Brunei juga tertarik dengan teknologi yang diterapkan Pertamina yang memanfaatkan Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk meningkatkan produksi minyak di sumur-sumur minyak tua. 

Oleh karena itu, Bahlil siap memfasilitasi Brunei untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan pelat merah indonesia di bidang energi.

"Kami siap melakukan kerja sama untuk sharing pengalaman dan pengetahuan untuk berbicara teknis, nanti akan saya siapkan dengan senang hati untuk berbagi dan belajar," ujarnya.

Sementara itu, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi, mengungkapkan ketertarikan negaranya terhadap teknologi EOR tersebut, lantaran Brunei sejauh ini sudah menggunakan teknologi water flooding dan siap untuk memanfaatkan chemical flooding seperti EOR untuk meningkatkan produksi minyaknya.

"Kita tertarik di Indonesia, sebab ada teknologi EOR yang sudah diterapkan. Kita sudah menggunakan water flooding dan kita percaya kita bisa belajar dari Indonesia untuk mengoperasikan EOR," ujar dia.

Di sisi lain, Indonesia juga mendorong peluang investasi yang lebih luas bagi Brunei melalui kerangka Koridor Ekonomi Indonesia (KEI) atau Indonesian Economic Development Corridor (IEDC). Melalui skema ini, Brunei diajak untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya di wilayah terpencil (remote area) yang memiliki potensi sumber daya alam namun masih membutuhkan dukungan infrastruktur energi.

Kerja sama tersebut juga dirancang mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui program capacity building, mulai dari sektor hulu migas hingga pelatihan auditor energi terbarukan.

Pertemuan ini juga membuka babak baru, di mana Brunei yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen migas utama di Asia Tenggara mulai secara serius melirik langkah transformasi energi Indonesia. 

Delegasi Brunei menyampaikan ketertarikannya untuk mempelajari pengalaman Indonesia dalam mengembangkan diversifikasi pembangkit energi, khususnya yang berasal EBT.

Dikatakan Bahlil, ke depannya, Brunei sedang mempersiapkan untuk meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit nasionalnya hingga 5 kali lipat dari kapasitas eksisting, atau ingin menambah 4 gigawatt (GW) dari kapasitas terpasang yang sekarang sebesar 1 GW.

"Ini adalah momentum emas bagi kolaborasi kawasan. Brunei melihat Indonesia telah melangkah lebih maju dan terstruktur dalam mengembangkan pembangkit energi dari berbagai macam sumber energi, dimana Brunei memanfaatkan 99 persen dari gas untuk pembangkit listriknya dan ingin mengurangi porsi pemanfaatan gas untuk pembangkitnya," ujar Bahlil.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement