“Bisa dengan mengambil air dari akuifer dalam, ratusan meter, yang tidak digunakan warga, atau terlebih dahulu membuat pond,” ujarnya.
Yoga menjelaskan, sekitar 95 persen fluida yang diproduksikan dari reservoir panas bumi berupa air. “Fluida tersebut mengandung sejumlah mineral terlarut seperti natrium, kalium, magnesium, klorida, sulfat dan bikarbonat, serta unsur seperti litium dan boron dalam konsentrasi lebih rendah,” ujarnya.
Menurut dia, fluida panas bumi dapat dikelola melalui treatment dan reinjeksi sehingga tidak memengaruhi kualitas air permukaan maupun air dekat permukaan. Secara hidrologis, reservoir panas bumi dan akuifer air tanah juga merupakan sistem yang berbeda.
Di sisi lain, Yoga menilai PLTP Gunung Ungaran berpotensi membantu menekan emisi sektor ketenagalistrikan. Dia menyebut emisi CO2 PLTP sekitar 100 gram per kWh, jauh di bawah PLTU batu bara yang mencapai sekitar 900 gram per kWh.
“Semakin banyak porsi PLTP menggantikan PLTU, akan berkontribusi positif bagi kualitas lingkungan, baik udara, laut maupun air,” katanya.
Dengan rencana kapasitas sekitar 55 megawatt (MW), Yoga menilai PLTP Gunung Ungaran dapat menambah pasokan listrik berbasis panas bumi sekaligus meningkatkan porsi energi dengan emisi lebih rendah dalam sistem ketenagalistrikan.
“Pengembangannya tetap perlu dilakukan bertahap dan berbasis kajian agar pengelolaan lingkungan dan kepentingan masyarakat tetap menjadi bagian dari perencanaan proyek,” kata dia.
(Dhera Arizona)