IDXChannel - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah memperkuat kebijakan fiskal untuk mengembalikan optimisme pelaku usaha di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi.
Direktur Insights Kadin Indonesia Institute, Fakhrul Fulvian mengatakan, pelaku usaha membutuhkan arah kebijakan yang jelas agar memiliki kepastian dalam menjalankan investasi dan ekspansi usaha.
"Pelaku usaha melihat butuh sinergi dengan pemerintah yang lebih baik. Selain itu kepastian regulasi. Yang ketiga, kebijakan fiskal yang clear. Ini yang paling juga dibutuhkan, apakah kita memang akan mengarahkan pada peningkatan value added export terhadap hilirisasi ataupun sektor-sektor lainnya," kata Fakhrul, Rabu (16/6/2026).
Menurutnya, pemerintah juga perlu menjaga daya beli masyarakat karena hal tersebut akan berdampak langsung terhadap permintaan di dalam negeri. Untuk itu, ia menilai dibutuhkan dorongan fiskal yang kuat sekaligus kredibel.
"Kata kuncinya dua, kita butuh dorongan fiskal kuat dan kredibel. Kira-kira seperti itu. Karena kuat dan kredibel, dia bisa dikomunikasikan dengan baik kepada dunia usaha," tutur Fakhrul.
Sebelumnya, hasil Survei Kadin Business Pulse Kuartal II 2026 menunjukkan sentimen bisnis masih melemah dibandingkan kuartal sebelumnya. Pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian kebijakan fiskal pemerintah menjadi perhatian utama para pelaku usaha.
"Hasil yang kita dapatkan pada kuartal II itu menunjukkan bahwa sentimen bisnis itu cenderung masih ada pelemahan dibandingkan kuartal I, yang mana concern utama dari pelaku usaha di kuartal II ini adalah terkait dengan pelemahan rupiah dan yang kedua itu adalah terkait dengan kepastian kebijakan fiskal pemerintah. Itu merupakan hal yang sangat dilihat oleh pelaku usaha," kata Fakhrul.
Dia menjelaskan dampak terbesar dari pelemahan rupiah dirasakan melalui meningkatnya biaya operasional perusahaan. Kondisi tersebut membuat beban usaha bertambah, terutama bagi perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku maupun komponen impor.
Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi tantangan dalam menjaga margin keuntungan. Melemahnya daya beli masyarakat membuat perusahaan tidak leluasa menaikkan harga jual untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi.
"Dari survei kita terkait dampak pelemahan rupiah, hal yang paling concerning untuk para pelaku usaha terkait dengan biaya operasional. Kenaikan biaya operasional yang muncul dari peningkatan dari pelemahan nilai tukar rupiah. Kenapa ini menjadi hal yang concern? Karena hal yang kedua setelah biaya operasional itu terkait dengan kemampuan mempertahankan margin," ujar Fakhrul.
(DESI ANGRIANI)