Sementara itu, jika suatu negara menerapkan institusi ekstraktif maka tercipta pembatasan persaingan, monopoli, dan memelihara praktik political capitalism.
James pun menyebut sejumlah negara yang telah menerapkan institusi ekonomi inklusif. Salah satunya Korea Selatan yang berkembang sukses melalui dukungan konglomerasi, Taiwan dengan sektor usaha kecil dan menengah (UKM), hingga Singapura yang mengandalkan keunggulan geografis serta sektor kepelabuhanan.
Perbedaan jalur tersebut menunjukkan bahwa strategi pembangunan suatu negara harus disesuaikan dengan kondisi dan peluang yang tersedia.
“Untuk menjadi masyarakat yang inovatif, kita perlu membangun sistem institusi yang mampu menggali seluruh talenta terpendam di masyarakat dan memberi mereka jalan untuk naik ke atas. Karena itulah kata inklusif begitu penting” ungkap James.
Lebih lanjut, dia mengatakan pemerintah juga dituntut untuk menetapkan arah kebijakan yang tegas dan melakukan evaluasi secara berkala. Dengan begitu, sebuah negara memiliki tolok ukur kemajuan yang jelas sehingga target pertumbuhan 8 persen berdasarkan langkah-langkah konkret dan terukur di lapangan.