IDXChannel - Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan pemerintah akan membuka ruang kerja sama yang lebih luas antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan sektor swasta. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi BUMN.
Rosan mengatakan, langkah tersebut akan menjadi bagian dari tahap lanjutan program streamlining BUMN yang saat ini masih berjalan. Pemerintah juga akan mulai mendorong optimalisasi aset-aset BUMN pada 2027.
"Next step-nya bagaimana kita mengoptimalisasi aset-aset BUMN, kemudian juga meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi, termasuk juga kita membuka kerja sama yang lebih luas kepada private sector, kepada dunia usaha," ujar Rosan saat ditemui di Istana Negara, Senin (5/10/2026).
Pemerintah, kata dia, tidak menutup peluang bagi swasta untuk terlibat dalam pengelolaan aset atau usaha BUMN sepanjang kegiatan tersebut bukan merupakan sektor strategis dan dapat dijalankan lebih baik oleh dunia usaha.
"Kalau memang yang sudah bagus, sudah bisa dikerjakan oleh private sector, ya silakan, kita dukung," ujar dia.
Rosan menjelaskan, optimalisasi aset menjadi penting karena nilai aset yang dimiliki BUMN sangat besar. Namun, besarnya aset tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kemampuan menghasilkan arus kas maupun pendapatan.
"Aset-aset BUMN juga sangat banyak. In terms of aset kita besar, tapi in terms of cash flow-nya, pendapatannya mungkin berbanding asetnya masih sangat kecil," ujar Rosan.
Karena itu, pemerintah akan melakukan analisis terhadap berbagai aset BUMN untuk menentukan strategi optimalisasi yang tepat. Evaluasi tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari jalan tol, bandara, pelabuhan hingga sektor minyak dan gas.
"Kita akan analisa semua, apakah itu di jalan tol, di airport, oil and gas, bandara, pelabuhan, nanti kita analisa semua," tuturnya.
Rosan menegaskan, optimalisasi aset tersebut akan dilakukan dengan perencanaan yang baik, terukur dan terstruktur. Selain meningkatkan kinerja BUMN, langkah tersebut diharapkan dapat memberikan imbal hasil atau yield yang lebih baik.
Langkah itu sekaligus menjadi kelanjutan dari program streamlining BUMN yang telah dilakukan pemerintah untuk menyederhanakan jumlah dan struktur perusahaan pelat merah.
Menurut Rosan, proses streamlining tidak hanya dilakukan melalui pengurangan jumlah entitas, tetapi juga melalui penggabungan perusahaan-perusahaan yang memiliki bidang usaha sejenis.
Sebagai contoh, Danantara telah menggabungkan enam perusahaan asset management yang sebelumnya dimiliki oleh masing-masing perbankan BUMN menjadi satu entitas.
Selain itu, Danantara juga melakukan konsolidasi pada sejumlah sektor yang selama ini dikelola secara terpisah. Salah satunya adalah sektor perhotelan, di mana terdapat sekitar 137 hotel BUMN yang sebelumnya dikelola melalui perusahaan-perusahaan berbeda.
"Jadi, dulu di BUMN kan setiap BUMN rata-rata punya hotel, dia bikin satu company. Nah, sekarang kita gabungkan, yang tadi kita punya 137 hotel supaya menjadi lebih efisien," kata Rosan.
Konsolidasi serupa juga dilakukan terhadap sektor rumah sakit. Danantara mencatat terdapat hampir 75 rumah sakit BUMN yang juga tengah diarahkan untuk dikonsolidasikan.
(NIA DEVIYANA)