Manajer investasi aktif diperkirakan akan mengurangi porsi portofolio aset Indonesia guna menyesuaikan benchmark global, yang berisiko menekan likuiditas dan nilai tukar.
Merespons ketidakpastian tersebut, Bank Indonesia (BI) konsisten melakukan intervensi bauran moneter guna meredam volatilitas Rupiah.
Intervensi dijalankan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sembari mengelola kecukupan likuiditas perbankan.
Untuk perdagangan pekan depan, pergerakan Rupiah diproyeksikan masih dibayangi respons isu MSCI serta pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh pada pertemuan tahunan IMF di Bangkok guna membaca arah suku bunga AS.
“Pernyataan tersebut akan dicermati untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS menjelang pertemuan The Fed pada akhir bulan ini,” kata Ibrahim.
Dengan mempertimbangkan kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, Ibrahim memproyeksikan pergerakan Rupiah sepekan ke depan akan berada dalam rentang Rp17.850 hingga Rp18.200 per dolar AS.
(Nur Ichsan Yuniarto)