sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Surat Utang PT SMI Kian Diminati Investor, Bisa Jadi Underlying Repo BI

Economics editor Anggie Ariesta
13/10/2026 19:23 WIB
PT SMI telah menerbitkan 76 seri Obligasi dan Sukuk dengan akumulasi nilai Rp58,2 triliun untuk mendukung pembiayaan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Surat Utang PT SMI Kian Diminati Investor, Bisa Jadi Underlying Repo BI. (Foto: Dok. Kementerian Keuangan)
Surat Utang PT SMI Kian Diminati Investor, Bisa Jadi Underlying Repo BI. (Foto: Dok. Kementerian Keuangan)

IDXChannel - Tingkat kepercayaan investor terhadap PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) (SMI) terus menunjukkan tren positif. Sejak menerbitkan obligasi perdana pada 2014, PT SMI telah menerbitkan 76 seri Obligasi dan Sukuk dengan akumulasi nilai mencapai Rp58,2 triliun untuk mendukung pembiayaan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menekankan pentingnya ketersediaan instrumen keuangan baru dalam mendukung pendalaman pasar modal.

“Pendalaman pasar keuangan membutuhkan instrumen-instrumen keuangan baru. Dengan adanya nanti SMF, apalagi SMI, cakupannya akan lebih luas. Kalau SMF fokus di perumahan, SMI bisa infrastruktur dan macam-macam jenisnya,” ujar Destry dalam keterangan resminya, Selasa (13/10/2026). 

Saat ini PT SMI mencatatkan milestone penting di mana Obligasi dan Sukuk terbitannya resmi masuk dalam daftar underlying transaksi repurchase agreement (repo) investor perbankan ke Bank Indonesia (BI). 

Langkah tersebut memperluas alternatif likuiditas bagi perbankan sekaligus meningkatkan aktivitas perdagangan surat utang PT SMI di pasar sekunder. Hal ini terbukti dari lelang repo perdana pada 28 September 2026, di mana Obligasi PT SMI senilai Rp60 miliar terserap seluruhnya.

Sebelumnya, pengesahan perluasan instrumen ini dilakukan dalam acara “Launching Perluasan Operasi Moneter” di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (1/10/2026), yang dihadiri oleh Gubernur BI Destry Damayanti, Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono, serta Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi.

Suahasil menilai masuknya instrumen PT SMI sebagai underlying repo akan semakin memperkokoh struktur pembiayaan nasional. “Perluasan underlying ini memperkuat pembiayaan pembangunan yang lintas sektor, karena PT SMI pembiayaannya itu sangat-sangat beragam,” kata Suahasil.

Daya tarik instrumen ini makin kuat setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaikkan klasifikasi High-Quality Liquid Assets (HQLA) Obligasi dan Sukuk PT SMI dari Level 2B menjadi Level 2A.

Peningkatan peringkat aset likuid ini membantu menurunkan risiko likuiditas serta memberi fleksibilitas bagi perbankan dalam mendiversifikasi portofolio selain Surat Berharga Negara (SBN).

Direktur Utama PT SMI, Reynaldi Hermansjah, menyambut positif perkembangan ini sebagai pendorong kapasitas pembiayaan perseroan.

“Perbankan kini punya ruang lebih fleksibel dalam mengelola likuiditas dengan menambah pilihan instrumen di pasar keuangan, namun sekaligus mendukung pembangunan nasional. Bagi PT SMI, status baru Obligasi dan Sukuk PT SMI ini akan membantu kami untuk meningkatkan kapasitas dalam menjalankan mandat pembiayaan pembangunan dengan target infrastruktur dan layanan publik yang lebih baik,” ujar Reynaldi.

Hingga 30 September 2026, PT SMI mencatatkan outstanding Obligasi dan Sukuk sebesar Rp19,2 triliun dengan peringkat kredit domestik tertinggi, yakni idAAA dari PEFINDO dan AAA(idn) dari Fitch Ratings.

Berbagai instrumen yang diterbitkan mencakup obligasi konvensional, Green Bond, Sustainability Bond, Sukuk Mudharabah, hingga Obligasi Ritel Infrastruktur PT SMI (ORIS).

(Febrina Ratna Iskana)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement