Dia menambahkan, kebijakan suku bunga yang relatif tinggi mulai berdampak pada pengetatan kondisi kredit. Situasi tersebut berpotensi memperlambat investasi bisnis dan menekan belanja rumah tangga berpendapatan tinggi, sehingga membantu meredam inflasi.
Kendati demikian, pernyataan kebijakan terbaru Federal Open Market Committee (FOMC) mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga masih mungkin diperlukan. Sejumlah pejabat The Fed mengkhawatirkan permintaan yang didorong investasi AI dan belanja konsumen yang kuat mulai memberikan tekanan terhadap harga.
"Akumulasi informasi lebih lanjut akan membantu Komite menentukan sikap kebijakan yang tepat untuk memastikan inflasi kembali ke target 2 persen secara tepat waktu," demikian pernyataan FOMC.
Dua pejabat The Fed menyatakan perbedaan pendapat dengan keputusan tersebut. Gubernur The Fed Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Bagi Cook, ini menjadi kali pertama dia menyatakan perbedaan pendapat dalam keputusan kebijakan moneter bank sentral.
Ekonom Oxford Economics, Michael Pearce menilai sejumlah faktor yang mendorong sikap hawkish The Fed masih bertahan, termasuk harga bahan bakar yang tinggi, tekanan inflasi terkait AI, dan pasar tenaga kerja yang tetap tangguh. Harga energi, khususnya diesel, turut menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap biaya pengiriman, pertanian, dan sektor industri lainnya.