sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Timur Tengah Bergejolak, Airlangga Klaim Ekonomi RI Tetap Kuat dan Solid

Economics editor Anggie Ariesta
17/03/2026 07:29 WIB
Pemerintah terus memantau dampak ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran terhadap ekonomi Indonesia.
Pemerintah terus memantau dampak ketegangan geopolitik antara AS, Israel, dan Iran terhadap ekonomi Indonesia. (Foto: iNews Media/Anggie Ariesta)
Pemerintah terus memantau dampak ketegangan geopolitik antara AS, Israel, dan Iran terhadap ekonomi Indonesia. (Foto: iNews Media/Anggie Ariesta)

Indonesia juga memiliki mekanisme natural hedging di mana kenaikan harga komoditas ekspor seperti batu bara, nikel, dan tembaga senilai USD47 miliar mampu menyeimbangkan defisit di sektor migas.

Selain itu, pemerintah memfungsikan APBN sebagai shock absorber untuk meredam gejolak global melalui subsidi energi, bantuan pangan senilai Rp11,92 triliun, dan penyaluran THR. 

Airlangga juga mengungkapkan instruksi strategis dari Presiden Prabowo Subianto guna menghadapi dampak konflik jangka panjang. Beberapa arahan tersebut meliputi percepatan ketersediaan energi nasional, efisiensi konsumsi bahan bakar, perluasan kebijakan Work From Home (WFH), dan penguatan disiplin fiskal agar defisit tetap di bawah 3 persen PDB.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi pasar dan mendorong penggunaan Local Currency Settlement (LCS). Transaksi menggunakan mata uang lokal dengan mitra seperti China dan Jepang melonjak dua kali lipat menjadi USD25,66 miliar pada 2025.

Selain isu geopolitik, pemerintah menyatakan kesiapannya dalam menghadapi investigasi Section 301 oleh Amerika Serikat melalui konsultasi konstruktif yang melibatkan asosiasi industri dan pelaku usaha.

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement