“Kalau kita belajar dari negara luar ya, mereka itu tidak melakukan storytelling, tapi yang dilakukan storynomics. Kenapa? Karena story itu harus menghasilkan ekonomi,” ujar Vita.
Ia mencontohkan Korea yang memanfaatkan film sebagai salah satu bagian dari rangkaian industri kreatif untuk memperkenalkan berbagai hal, termasuk makanan dan destinasi.
“Makanan, destinasi, itu melalui filmnya,” katanya.
Vita menilai, storytelling tetap penting, tetapi belum cukup jika tidak disertai strategi promosi yang dijalankan di berbagai lini. Apalagi, kebiasaan generasi muda dalam mengonsumsi konten kini banyak dipengaruhi media sosial, termasuk TikTok.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar membuat konten tentang makanan tradisional, melainkan bagaimana menyajikannya dengan cara yang mampu membangkitkan rasa penasaran anak muda hingga membuat mereka ingin mencoba.
“Anak zaman sekarang misalnya semuanya main apa? TikTok, ya. Nah, gimana caranya untuk membuat mereka menjadi pengin coba?” ucapnya.