AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Bagaimana Raup Rp17,2 Miliar dari Podcast? Ini Cara yang Dilakukan Steven Bartlett

INSPIRATOR
Aditya Pratama/iNews
Senin, 30 Agustus 2021 08:27 WIB
Steven Bartlett menghasilkan USD1,2 juta dolar atau sekitar Rp17,2 miliar tahun ini dari podcast-nya yang bertajuk "The Diary of a CEO".
Steven Bartlett menghasilkan USD1,2 juta dolar atau sekitar Rp17,2 miliar tahun ini dari podcast-nya yang bertajuk
Steven Bartlett menghasilkan USD1,2 juta dolar atau sekitar Rp17,2 miliar tahun ini dari podcast-nya yang bertajuk "The Diary of a CEO". (Foto: PA)

IDXChannel - Steven Bartlett menghasilkan USD1,2 juta dolar atau sekitar Rp17,2 miliar tahun ini dari podcast-nya yang bertajuk "The Diary of a CEO". Pengusaha berusia 29 tahun tersebut pun memaparkan bagaimana dia secara efektif memonetisasi podcast populer.  

Bartlett merupakan pendiri perusahaan media sosial bernama Social Chain. Media sosial tersebut diluncurkan dari kamar tidurnya di Manchester City, Inggris saat usianya 22 tahun. Dia mencatatkan saham perusahan media sosialnya di bursa saham Dusseldorf Jerman pada 2019 dengan kapitalisasi pasar mencapai 350 juta dolar AS, sebelum akhirnya meninggalkan bisnis itu pada tahun lalu. 

Sementara itu, Bartlett telah membuat podcast "The Diary of a CEO" sekitar 4 tahun lalu dengan mikrofon seharga 100 dolar AS yang dicolokkan ke laptopnya. Sekarang, podcast-nya disebut sebagai podcast bisnis teratas di Eropa, dengan tamu bervariasi mulai dari penyanyi Liam Payne hingga pendiri Monzo Tom Blomfield.  Dalam episode terbarunya yang dirilis awal pekan lalu, Bartlett menjelaskan bagaimana dia berhasil membangun pengikut dan memberikan tips penting kepada podcaster pemula bisa menghasilkan banyak uang seperti dirinya. 

Dia mengatakan, sebagian besar podcaster menghasilkan uang dari iklan di tengah episode. Dia menjelaskan, biasanya ada agensi periklanan podcast yang bertindak sebagai perantara antara podcaster dan brand. 

"Masalahnya adalah perantara mengambil bagian besar, potongan besar, dan brand membayar fixed fee per download terlepas dari seberapa bagus pertunjukkan Anda, siapa Anda, atau seberapa berharga audiens Anda," katanya, dikutip dari CNBC, Senin (30/8/2021). 

Bartlett mengaku cara tradisional memonetisasi podcast tidak cukup baginya untuk menutupi biaya produksi, sehingga dia memutuskan memotong perantara dan menghubungi lima perusahaan yang disukai secara langsung. Dia mengirim presentasi singkat kepada CEO perusahaan-perusahaan tersebut dengan alasan mengapa mereka harus mensponsori podcast-nya, termasuk pertumbuhan audiens, dan rencananya untuk masa depan acara tersebut. "Jarang seorang kreatif atau influencer menawarkan diri mereka ke sebuah brand, tetapi saya bersumpah jika Anda memiliki nyali, keterampilan, usaha, dan kerja keras untuk melakukan itu, Anda bisa mendapatkan penawaran luar biasa dan penawaran yang otentik untuk Anda," ujarnya.

Acara Bartlett memiliki tiga sponsor utama, yakni brand nutrisi Huel, platform freelancer Fiverr, dan produsen produk energi terbarukan Myenergi. Dia memiliki kontrak 12 bulan dengan tiga sponsor tersebut.

Selain itu, dia juga berkolaborasi dengan brand tertentu sekali setiap bulan, dengan menyebutkannya saat acara berlangsung. Sponsor-sponsor tersebut membayar biaya yang bervariasi tetapi Bartlett memperkirakan podcast-nya menghasilkan 1,2 juta dolar AS atau Rp17,2 miliar pada tahun ini. Selama beberapa tahun pertama podcast-nya, Bartlett mengatakan, dia tidak pernah konsisten merilis video. Namun akhirnya dia berkomitmen untuk merilis sebuah video setiap Senin, dan hasilnya jumlah audiens meningkat pesat.  "Konsistensi membuka segalanya, itu mengajarkan Anda lebih cepat daripada orang lain. Itu meningkatkan pertumbuhan dan membangun audiens, ini membantu membangun irama yang membuat mereka kembali lagi,” ucap Bartlett.

Lebih lanjut dia menuturkan, penting untuk memahami dari mana pertumbuhan audiens berasal, mengingat sebagian besar penemuan podcast baru tidak terjadi pada platform seperti Spotify dan iTunes. Bartlett mengatakan, memposting video podcast-nya di YouTube membantu dalam hal penemuan konten karena memiliki rekomendasi video yang bergulir. "Selain itu, penting juga menemukan keseimbangan yang tepat antara konsistensi dan kualitas pada saat yang bersamaan,” katanya.

Dalam beberapa kasus, dia menjelaskan, ada wawancara yang tidak ditayangkan karena percakapan itu tidak “cukup berharga” untuk dibagikan kepada audiens. Bartlett mengatakan, memiliki standar semacam ini akan membantu meningkatkan kualitas konten. Sementara dalam hal biaya, dia telah menghabiskan sekitar 54.856 dolar AS atau Rp788 juta untuk peralatan, dan mempekerjakan delapan orang untuk terlibat dalam produksi podcast. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD