AALI
9650
ABBA
222
ABDA
5500
ABMM
2140
ACES
775
ACST
160
ACST-R
0
ADES
6225
ADHI
755
ADMF
8000
ADMG
170
ADRO
2720
AGAR
316
AGII
2000
AGRO
660
AGRO-R
0
AGRS
120
AHAP
55
AIMS
256
AIMS-W
0
AISA
140
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1425
AKRA
960
AKSI
284
ALDO
820
ALKA
298
ALMI
290
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/07/01 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
519.46
-1.84%
-9.76
IHSG
6794.33
-1.7%
-117.25
LQ45
974.33
-1.78%
-17.61
HSI
0.00
-100%
-21996.89
N225
25935.62
-1.73%
-457.42
NYSE
0.00
-100%
-14599.59
Kurs
HKD/IDR 1,904
USD/IDR 14,960
Emas
863,215 / gram

Kisah Tarpan Suparman, Dulu Tukang Becak Berpenghasilan Rp2.500 Kini Jadi Dekan Sukses

INSPIRATOR
Nila Kusuma/Kontri
Rabu, 08 Juni 2022 18:50 WIB
Menurut Tarpan, dirinya tidak menyangka bisa menjadi seorang Dekan.
Kisah Tarpan Suparman, Dulu Tukang Becak Berpenghasilan Rp2.500 Kini Jadi Dekan Sukses (FOTO:MNC Media)
Kisah Tarpan Suparman, Dulu Tukang Becak Berpenghasilan Rp2.500 Kini Jadi Dekan Sukses (FOTO:MNC Media)


IDXChannel - Tarpan Suparman (55), alumni tukang becak ini berdiri tegap saat diambil sumpah sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Pendidikan UBP Karawang.

Tarpan nampak tidak canggung dengan rekan-rekan di Universitas UBP Karawang. Bahkan dia kerap melepas tawa saat bicara dengan kawan-kawannya sesama pendidik. Memang Tarpan oleh teman-temannya kampus UBP merupakan salah satu pejabat UBP Karawang jabatannya sebagai Dekan UBP saat ini merupakan jabatan peride kedua dijabatan yang sama.

Namun melihat Tarpan hari ini sangat berbeda jauh dengan keadaan sebelumnya. Dia cuma anak petani miskin yang hidup pas-pasan. Orang tuanya hanya buruh tani yang tidak memiliki sawah. "Ayah saya buruh tani menggarap sawah orang. Kami sekeluarga memang serba kesusahan menjalani hidup saat itu," kata Tarpan, mengenang masa lalu, saat diwawancara usai dilantik di Kampus UBP Karawang.

Menurut Tarpan, dirinya tidak menyangka bisa menjadi seorang Dekan. Pasalnya karena ekonomi keluarga yang pas-pasan, sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas dilalui dengan dengan kesusahan.

"Karena faktor ekonomi saya tidak seperti teman-teman lainnyang hidupnya kecukupan. Saya.cukup tahu diri dan membatasi pergaulan saat disekolah," katanya.

Lepas dari sekolah SMEA, Tarpan tidak berfikir untuk melanjutkan hingga ke universitas tapi ingin mencari kerja membantu ekonomi keluarganya. Kemudian dia meninggalkan tanah kelahirannya di Tempuran, Karawang pergi hingga ke Banten. "Saya cari kerja hingga ke Banten. Namun tidak ada satupun lowongan untuk saya," katanya

Akhirnya dia kembali ke Karawang, namun tidak pulang ke rumah. Tarpan lebih memilih tinggal dirumah kawannya di kota Karawang. Dia berharap tinggal di kota lebih berpeluang mendapat kerja. Setelah numpang dirumah temannya, namun pekerjaan tak kunjung didapat. "Hampir setiap sudut kota Karawang saya datangi tapi tidak.juga dapat kerjaan," katanya.

Setiap malam dia melamum didepan rumah kawannya. Namun suatu malam saat dia sedang didepan rumah melihat ke ujung jalan banyak becak parkir. Dia mendatangi pemilik pangkalan becak dan menanyakan apakah ada lowongan untuk sopir becak. Tidak disangka ternyata ada satu becak yang nganggur. "Saya diterima jadi sopir becak karena pemiliknya kenal dengan teman saya. Itu tahun 1990 saat saya jadi tukang becak," katanya.

Esok harinya, Tarpan resmi menjadi sopir becak  dan manggkal di Kelurahan Adiarsa. Tarpan nekat jadi sopir becak karena keadaan yang memaksa. "Saya harus bisa hidup sendiri, malu kelamaan numpang dirumah teman. Paling tidak bisa makan minum biaya sendiri," katanya.

Menurut Tarpan jadi sopir becak pendapatanya lumayan untuk bertahan hidup. Setiap hari dia dapat uang dari genjot becak antara Rp 2000 hingga Rp 2.500 per hari. Setoran untuk.pemilik becak Rp 500, hingga perhari dia bisa.mengantongi Rp 2000. "Cukup untuk makan minum saat itu," katanya.

Namun setelah 1 tahun 5 bulan menjadi sopir becak, Tarpan kembali menganggur karena becak yang menjadi batangannya itu dijual oleh pemiliknya. Pemilik menjual semua becaknya karena alasan hendak membangun rumah.

"Waktu itu sedih juga karena jadi.penganggur lagi. Cari kerja susah saya sempat putus asa dan ingin pulang ke kampung," katanya.

Namun setelah lepas jadi tukang becak justru jalan hidup Tarpan mulai bersinar. Saat sudah menganggur, tiba-tiba dia di tawari kerja oleh kawannya sebagai tata usaha di Universitas Singaperbangsa (Unsika) Karawang. Meski baru menjadi karyawan magang namun dia gembira bukan kepalang.

"Waktu pertama kerja sistem gajinya tidak menentu. Tapi saya tetap semangat bekerja," katanya. Setelah kerja sebagai tata usaha di Universitas Singaperbangsa, Tarpan minta izin pimpinan untuk kuliah. Ternyata pimpinan setuju dan berharap Tarpan serius menekuni dunia pendidikan.

Setelah kuliah dan berhasil.menjadi sarjana, karier Tarpan semakin moncer. Mulanya dia diminta membantu dosen yang berhalangan. Kemudian kariernya naik saat pindah.ke kampus UBP diangkat menjadi dosen dan kemudian dipercaya menjadi Dekan Fakultas Keguruan dan Pendikan di UBP Karawang hingga sekarang. 

(SAN)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD