sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Maudy Ayunda Adakan Ruang Belajar Sementara untuk Anak-Anak Terdampak Banjir di Aceh Tamiang

Inspirator editor Armydian Kurniawan
20/05/2026 18:51 WIB
Banyak siswa di Aceh Tamiang masih belajar menggunakan fasilitas terbatas hingga sekarang.
Maudy Ayunda Adakan Ruang Belajar Sementara untuk Anak-Anak Terdampak Banjir di Aceh Tamiang
Maudy Ayunda Adakan Ruang Belajar Sementara untuk Anak-Anak Terdampak Banjir di Aceh Tamiang

IDXChannel—Artis ‘Para Perasuk’, Maudy Ayunda, berkolaborasi dengan Save The Children Indonesia untuk mengadakan Temporary Learning Space, atau Ruang Belajar Sementara, untuk mendukung literasi anak-anak terdampak musibah banjir bandang di Aceh Tamiang

Hingga Februari 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat masih ada 4.922 satuan pendidikan di Sumatera terdampak bencana banjir dan cuaca ekstrem. Angka ini mencakup 3.120 sekolah di Aceh dengan lebih dari 707.161 murid terdampak. 

Selain itu, sebanyak 59.620 guru ikut merasakan gangguan proses pembelajaran pascabencana panjang. Banyak siswa akhirnya masih belajar menggunakan fasilitas terbatas hingga sekarang.

Kondisi ini memicu Maudy Ayunda Foundation untuk menjalin kolaborasi dengan Save the Children Indonesia. Hasil Education Rapid Assessment memperlihatkan 90 persen sekolah sebenarnya sudah kembali belajar. 

Namun, tingkat kehadiran siswa, terutama Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan TK, masih rendah karena kendala akses, transportasi, dan kekhawatiran keamanan yang masih membayangi banyak keluarga hingga kini.

Maudy sendiri turut hadir secara langsung untuk mengisi kegiatan belajar bersama anak-anak. Pendiri Maudy Ayunda Foundation tersebut beberapa kali berkeliling menyapa murid satu per satu. Di ruangan lain, ia terlihat berdiskusi ringan bersama guru dan para siswa. 

Beberapa siswi duduk tenang memperhatikan percakapan bersama Maudy di ruang kelas  sederhana dengan ventilasi terbuka dan minim dekorasi. Namun, anak-anak tetap terlihat ceria ketika berbincang bersama Maudy.

Kegiatan semakin hidup saat lulusan Stanford University itu memasuki ruang kelas lain yang lebih padat. Ia duduk di kursi kecil sambil memegang buku cerita dan mikrofon hitam. Puluhan anak duduk lesehan memenuhi ruangan bercat kuning kusam yang mulai mengelupas. 

Musisi sekaligus aktivis pendidikan tersebut menilai akses pendidikan sering menjadi persoalan terbesar pascabencana. Menurutnya, sering kali yang kurang bukanlah kemauan dan semangat anak-anak untuk belajar, tetapi akses dan ruang yang memungkinkan bagi mereka untuk terus melanjutkan pendidikan. 

“Ketika akses pendidikan sudah terbatas sejak awal, bencana seperti ini bisa membuat kesempatan belajar anak-anak semakin timpang. Kami percaya bahwa setiap anak tetap berhak atas pendidikan yang layak, bahkan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun. Karena itu, dukungan pendidikan pascabencana menjadi sangat penting,” ungkapnya.

Maudy mengatakan, pengalaman bertemu langsung anak-anak Aceh Timur sangat membekas dalam ingatannya. 

“Bencana merusak kelas, tetapi tidak mematahkan semangat anak-anak untuk tetap datang ke sekolah dan belajar,” tuturnya.

CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, memiliki pandangan serupa mengenai pemulihan pendidikan anak. “Belajar kembali adalah keberanian anak-anak untuk pulih,” katanya.


(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement