AALI
8250
ABBA
214
ABDA
6025
ABMM
3960
ACES
610
ACST
176
ACST-R
0
ADES
7175
ADHI
715
ADMF
8300
ADMG
167
ADRO
3960
AGAR
292
AGII
2350
AGRO
550
AGRO-R
0
AGRS
90
AHAP
85
AIMS
242
AIMS-W
0
AISA
164
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1635
AKRA
1350
AKSI
316
ALDO
655
ALKA
290
ALMI
392
ALTO
181
Market Watch
Last updated : 2022/09/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
534.58
0.21%
+1.10
IHSG
7040.80
0.07%
+4.60
LQ45
1011.48
0.24%
+2.44
HSI
17222.83
0.33%
+56.96
N225
25937.21
-1.84%
-484.84
NYSE
13608.29
-1.63%
-224.91
Kurs
HKD/IDR 1,939
USD/IDR 15,260
Emas
819,860 / gram

Siapa Pemilik Astra International (ASII), Perusahaan Besar dengan Korporasi Luas

INSPIRATOR
Mohammad Yan Yusuf
Jum'at, 23 September 2022 10:57 WIB
Siapa pemilik Astra International menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak, perusahaan ini menjelma korporasi besar dan internasional. 
Siapa Pemilik Astra International, Perusahaan Besar dengan Korporasi Luas. (FOTO : MNC Media)
Siapa Pemilik Astra International, Perusahaan Besar dengan Korporasi Luas. (FOTO : MNC Media)

IDXChannel - Siapa pemilik Astra International menarik untuk dibahas. Bagaimana tidak, perusahaan ini menjelma korporasi besar dan internasional. 

Seperti diketahui, PT Astra International Tbk dengan kode emiten ASII adalah sebuah konglomerat multinasional yang berkantor pusat di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1957 dengan nama PT Astra International Inc oleh Tjia Kian Tie, Liem Pen Hong, Parulian Nainggolan, Datu Parulas Nainggolan dan Saut Guru Pamosik Nainggolan.

Lantas siapa pemilik Astra International? Simak penjelasan yang dihimpun kami dari berbagai sumber tepercaya. 

Sejarah Astra International

Pada tahun 1990, Astra melakukan penawaran umum perdana atas 30 juta lembar sahamnya di Bursa Efek Jakarta. Kepemilikan keluarga Soeryadjaya dalam perusahaan miliknya ini, sayangnya tidak berlangsung lama pasca-IPO. Beberapa saat setelah IPO, bisnis keuangan anak William, Edward Soeryadjaya bernama Bank Summa, mengalami krisis yang hebat akibat terlalu banyak meminjamkan kredit pada pihak berelasi dan properti, sehingga kredit macetnya mencapai 70%. 

Pada tahun 1992, kredit macet Bank Summa sudah mencapai Rp1,2 triliun dan utangnya sebesar Rp500 miliar. Akhirnya, Summa pun tidak terselamatkan dan dilikuidasi pemerintah pada 14 Desember 1992.

Selain itu, saham Astra di jual kepada konsorsium yang terdiri dari badan-badan pemerintah dan sejumlah konglomerat, seperti Eka Tjipta Widjaja, Prajogo Pangestu, Bob Hasan dan Salim Group pada 15 Januari 1993, yang kemudian bersama-sama publik menjadi pengendali baru Astra.

Pada tahun 1996, hampir saja Astra jatuh ke tangan raja kretek Putera Sampoerna yang saat itu membeli 15,8% saham di perusahaan ini dan hampir dinaikkannya menjadi 25%, namun ditolak oleh pemerintah, elit yang dekat dengan Cendana dan pemegang saham perusahaan Putera, HM Sampoerna. Putera akhirnya melepas sahamnya di tahun 1997 ke tangan Bob (Nusamba).

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD