Ia mengibaratkan perjuangan tersebut seperti melamar pekerjaan yang belum tentu langsung mendapat panggilan. Karena itu, kegagalan tidak seharusnya membuat calon mahasiswa berhenti mencoba. “Daripada ngoyo, lebih baik fokus mempersiapkan diri,” ujarnya.
Andrew kemudian menjajal EMJM, program yang memungkinkan mahasiswa belajar lintas universitas dan negara. Kesempatan itu akhirnya datang pada 2022 melalui program Medical Imaging and Applications (MAIA).
Lintas Negara, Beradaptasi dengan Budaya
Dalam program tersebut, Andrew menjalani perkuliahan di Prancis, Italia, dan Spanyol. Ia kemudian menyelesaikan tesis magisternya di Karolinska Institutet, Swedia. Setiap semester memiliki fokus berbeda, mulai dari pencitraan medis dasar hingga pengenalan kecerdasan buatan (AI). Materi berlanjut ke bidang spesialisasi dan persiapan tesis akhir.
Pengalaman internasionalnya juga terasa di ruang kelas. Sebanyak 28 mahasiswa dari 21 negara mengikuti program tersebut. Bahasa Inggris menjadi bahasa utama selama perkuliahan.
Selain pengetahuan akademik, Andrew belajar memahami kebiasaan masyarakat dengan latar budaya berbeda.