Sinyal kedua adalah pergerakan nilai tukar rupiah. Menurut Henan, stabilisasi atau penguatan rupiah secara alami menuju kisaran Rp15.000-Rp16.000 per dolar AS akan menjadi indikasi bahwa tekanan struktural terhadap pasar mulai mereda dan kepercayaan investor asing mulai pulih.
Sementara itu, indikator ketiga adalah hasil pemeringkatan utang (sovereign rating) Indonesia oleh S&P Global Ratings yang dijadwalkan pada Juli 2026. Henan menilai keputusan lembaga pemeringkat tersebut akan menjadi tolok ukur tambahan mengenai persepsi investor global terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan Indonesia.
Henan juga mengingatkan investor untuk mampu membedakan antara informasi yang penting dan yang hanya memicu volatilitas jangka pendek. Berbagai interpretasi ekstrem terhadap keputusan MSCI, baik yang menyebut Indonesia telah sepenuhnya aman maupun yang menganggap penurunan status tinggal menunggu waktu, merupakan 'sound' yang tidak perlu terlalu direspons.
Sementara itu, pergerakan harian IHSG akibat sentimen pemberitaan dinilai sebagai 'noise' yang perlu dipisahkan dari kondisi fundamental. Adapun 'signal' yang patut diperhatikan adalah perkembangan nyata implementasi reformasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta penilaian lembaga internasional terhadap Indonesia.
Henan menilai fokus pada ketiga indikator tersebut akan membantu investor mengambil keputusan investasi yang lebih objektif di tengah masa evaluasi MSCI. Menurut perusahaan, keputusan MSCI pada November 2026 akan sangat dipengaruhi oleh bukti implementasi reformasi yang dilakukan regulator, bukan semata-mata oleh kebijakan yang telah diumumkan.
(Febrina Ratna Iskana)