IDXChannel - Prospek harga emas dunia sepekan dibayangi tekanan kuat dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), penguatan dolar AS, dan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Survei mingguan Kitco News menunjukkan pelaku pasar institusi di Wall Street mulai kehilangan optimisme terhadap pergerakan emas dalam jangka pendek, meski investor ritel masih mempertahankan pandangan bullish.
Harga emas spot pada Jumat (15/5/2026) pekan lalu ditutup merosot 2,37 persen ke USD4.539,99 per troy ons setelah sempat menyentuh level terendah sejak 4 Mei. Dalam sepekan, emas telah terkoreksi 3,73 persen.
Managing Director Bannockburn Global Forex, Marc Chandler mengatakan lonjakan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar menjadi faktor utama yang menekan emas di akhir pekan.
“Logam mulia sebelumnya bergerak dalam kisaran perdagangan Selasa, tetapi akhirnya menembus ke bawah menjelang akhir pekan dan menyentuh level terendah delapan hari,” ujarnya, dikutip Kitco News.
Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day menilai harga emas masih akan bergerak fluktuatif karena pasar dipengaruhi berbagai sentimen yang saling bersaing.
“Emas kemungkinan tetap sangat volatil karena faktor-faktor jangka pendek akan bergantian mendominasi pasar,” katanya.
Sementara itu, Senior Commodities Broker RJO Futures, Daniel Pavilonis mengatakan pelemahan emas dipicu kombinasi kenaikan imbal hasil Treasury AS dan ketidakpastian geopolitik, termasuk konflik Iran yang memperkuat kekhawatiran inflasi.
Survei Kitco terhadap 13 analis memperlihatkan mayoritas Wall Street berubah bearish. Sebanyak 77 persen responden memprediksi harga emas masih akan melemah sepekan ini, hanya 15 persen yang memperkirakan kenaikan, sementara sisanya melihat pergerakan konsolidasi.
Berbeda dengan pelaku institusi, investor ritel masih relatif optimistis. Dari 29 responden jajak pendapat online Kitco, sebanyak 59 persen memperkirakan harga emas akan kembali naik sepekan ini.
Pasar juga akan dibayangi sejumlah data ekonomi AS, mulai dari data sektor perumahan, manufaktur, klaim pengangguran mingguan, hingga risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC).
Pelaku pasar menilai arah pergerakan emas selanjutnya sangat dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, serta arah imbal hasil obligasi AS. (Aldo Fernando)