sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Aspra (ASPR) Genjot Impor Bahan Baku Plastik Imbas Pasokan Lokal Terbatas

Market news editor Anggie Ariesta
09/04/2026 00:05 WIB
PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) mengubah strategi pengadaan bahan baku bijih plastik dengan meningkatkan porsi impor.
PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) mengubah strategi pengadaan bahan baku bijih plastik dengan meningkatkan porsi impor. (Foto: Ist)
PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) mengubah strategi pengadaan bahan baku bijih plastik dengan meningkatkan porsi impor. (Foto: Ist)

IDXChannel - Emiten manufaktur plastik, PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) mengubah strategi pengadaan bahan baku bijih plastik dengan meningkatkan porsi impor. Langkah ini untuk merespons terbatasnya pasokan di pasar domestik akibat konflik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok dunia.

Direktur ASPR, Arif mengatakan, selama ini perseroan sangat mengandalkan pasokan lokal. Namun, kondisi terkini memaksa manajemen untuk melakukan diversifikasi pemasok guna menjaga keberlanjutan produksi.

“Terakhir, komposisinya sekitar 70 persen lokal dan 30 persen impor. Tapi karena dampak perang dan keterbatasan suplai di dalam negeri, kami mulai memperbanyak porsi impor,” kata Arif dalam Paparan Publik insidentil, Rabu (8/4/2026).

Sebelumnya, sebagian besar kebutuhan bahan baku impor ASPR, khususnya untuk kemasan cat, didatangkan dari kawasan Timur Tengah. Akibat instabilitas di wilayah tersebut, ASPR mulai melirik China sebagai alternatif utama untuk mendapatkan bahan baku dengan kualitas yang setara.

Langkah ini dianggap krusial karena lonjakan harga minyak dunia yang menembus level USD100 per barel telah mengerek naik harga resin plastik sebagai produk turunannya secara drastis.

“Jadi, ada alternatif supplier untuk menggantikan kebutuhan bahan baku,” ujar Arif.

Selain itu, kenaikan biaya produksi yang tak terhindarkan memaksa ASPR untuk menyesuaikan harga jual di tingkat pelanggan. Arif menyebutkan, lonjakan harga bahan baku di pasar global saat ini sudah berada di level yang sangat signifikan.

“Berita terbaru untuk kemasan plastik ini mengalami kenaikan mungkin sampai 50-60 persen. Begitu juga untuk produk-produk dari Asia Pramulia juga mengalami kenaikan menyesuaikan dengan harga bahan baku saat ini,” ujar Arif.

Untuk memitigasi risiko lebih lanjut, ASPR menerapkan manajemen stok yang ketat, kontrak jangka panjang dengan pemasok, serta melakukan strategi lindung nilai (hedging) guna mengantisipasi fluktuasi nilai tukar yang dapat membebani biaya impor.

Meski dibayangi tantangan biaya, ASPR tetap optimistis melihat pertumbuhan permintaan plastik untuk sektor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Ketergantungan masyarakat pada air minum siap konsumsi yang tinggi menjadi landasan bagi perseroan untuk terus mengekspansi kapasitas produksinya di segmen tersebut.

“Kami terus me-monitor kondisi global setiap hari, melakukan analisis agar stok tidak berlebih tapi juga tidak kekurangan. Kami juga memiliki kontrak dengan supplier untuk menjaga stabilitas pasokan,” katanya.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement