“Kita belum apa namanya merencanakan adanya dividen payout dan memang kalau kita lihat sampai 5 tahun ke belakang, BTN belum pernah membayarkan dividen interim dan sampai hari ini kita belum merencanakan adanya dividen interim,” ujarnya.
Sepanjang semester I-2026, BTN membukukan laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp2,4 triliun atau melonjak 40,8 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Perolehan laba ini disokong oleh penyaluran kredit dan pembiayaan yang tumbuh 11,2 persen YoY menjadi Rp418,11 triliun hingga akhir Juni 2026.
Pertumbuhan kredit tersebut juga diimbangi oleh perbaikan kualitas aset. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross melandai ke level 3 persen dari posisi Juni 2025 yang sebesar 3,3 persen. Sementara rasio kredit berisiko (Loan at Risk/LAR) berhasil ditekan dari 20,2 persen pada Juni 2025 menjadi 18,6 persen per Juni 2026.
(Rahmat Fiansyah)