"MSCI menurut kami ada perbedaan antara dari sisi isu pasar modal dengan perusahaan yang ada di pasar modal itu sendiri, apalagi saham-saham bumn yang dimiliki Danantara memiliki fundamental yang baik dan growth prospek yang baik, dan hari valuasinya cukup baik," ujarnya.
Menurut Pandu, Danantara akan melihat secara fundamental bisnis ketimbang isu yang beredar sebelum mengambil keputusan investasi di pasar modal. Dia melihat masih banyak perusahan tercatat yang dinilai cukup memiliki prospek pertumbuhan ke depan.
Investasi Danantara di pasar modal, ujar Pandu, juga akan terus ditingkatkan dengan mencermati dinamika pasar yang ada. Menurutnya, saham-saham perusahaan BUMN saat ini masih cukup menarik untuk dikoleksi apabila melihat aspek fundamental bisnis.
"Dari sisi DIM tentu kami profit oriented, kami melihat sekarang dari sisi risk reward menarik, kami juga sudah mulai masuk pasar modal, dan itu akan bertambah terus tergantung nanti kondisi pasar," kata dia.
Sebagai informasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Kamis (22/10/2026), dibuka zona merah di level 5.247. Namun, tidak bertahan lama IHSG di zona tersebut, hingga menjelang penutupan sesi I, indeks berhasil menghijau ke level 5.408.
Pada pekan lalu, pasca rilis pengumuman MSCI yang mengancam kelas pasar modal bakal diturunkan ke standalone market, indeks sempat tertekan cukup dalam hingga menyentuh level terendahnya di level 4.907. Level ini tercatat sebagai level terendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
(Dhera Arizona)